IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Banten Punya Motif Batik Sendiri

Perajin binaan Ratu Nelty Fariza Kusmiliyanti sedang mencanting kain batik motif asli Banten

IndonesiaBicara.com-Tangerang Selatan, (23/06/11). Ternyata Banten mempunyai motif batik sendiri yang berbeda dengan batik lainnya yang ada di Indonesia seperti Batik Solo maupun Batik Jogja atau Batik Pekalongan.

Batik Banten memiliki motif dan warna yang lebih lembut. Demikian yang dikatakan oleh salah satu perajin Batik Banten Ratu Nelty Kusmiliyanti kepada IndonesiaBicara.com saat ditemui di workshop Batik Banten di bilangan Bintaro Pondok Aren Tangsel.

Perajin Batik Banten, Ratu Nelty Fariza Kusmiliyanti,mengatakan Batik Banten banyak menceritakan situasi daerah tersebut.

“Setiap kain Batik memiliki satu cerita yang berbeda dengan Batik lainnya. Gambar-gambar yang ada biasanya memiliki sejarah tersendiri,” kata Fariza

Batik yang dia miliki antara lain menggambarkan suasana hutan yang menguatkan kehidupan masyarakat. Gambar-gambar yang ditonjolkan pada motif ini antara lain tumbuhan hutan dan akar-akaran. Selain itu terdapat batik yang menceritakan sejarah kejayaan dari daerah itu sekitar abad ketujuh sebagai daerah perdagangan rempah-rempah.

Gambar yang ada berupa kapal kolonial, benteng dan gapura, serta para jawara Banten. Dari setiap helai selalu terdapat ruang kosong diantara gambar-gambarnya. Lahan kosong itu menandakan masyarakat Banten yang membutuhkan kebebasan dan keleluasaan bergerak.

Warna yang dominan adalah ungu, tetapi Fariza belum mengetahui arti warna tersebut.

“Yang saya tahu, ungu itu adalah warna yang teduh. Bisa jadi ada keterkaitan dengan masyarakat Banten yang religius,” ujarnya.

Ada 70 nama batik yang bisa dijadikan ciri khas, diantaranya Bunga Soka, Ayam Maureng, Lengkong Satri, Benteng, Naga, dan sebagainya.

Bahkan dirinya telah membuat batik ciri khas Tangerang Selatan (Tangsel), yakni batik dengan ciri khas yang ada di Tangsel, batik Bunga Anggrek, batik Glandongan dan batik Moto Tangsel yang cerdas, modern serta religius.

“Kita membuat batik dari yang ada di Tangsel, bahkan 1000 motif dapat dikembangkan untuk Tangsel, begitu banyak ciri khas yang bisa di angkat, seperti di Pamulang, budidaya Anggrek, dapat di jadikan Batik Anggrek, dan sebagainya,”jelasnya.

Tangsel, penuh dengan khasanah, jika masyarakat luar Tangsel ingin berkunjung, mereka tidak sulit untuk mencari ciri khas Tangsel, sehingga dirinya mempunyai inisiatif untuk selalu mengembangkan potensi yang ada di Tangsel, bahkan untuk menurunkan sebuah ilmu cara membatik, dirinya rela menggratiskan untuk siapapun murid-murid atau guru-guru yang ada di Tangsel, bahkan tidak hanya di Tangsel, yakni di Banten, dapat belajar batik, meneruskan usahanya.

Dikarenakan pangsa pasar akan Batik, sangatlah tinggi, bahkan dirinya sudah meng-HAKI-kan sebanyak delapan buah batik yang dimilikinya, diantaranya Batik Benteng, Pesona Krakatau, Ratna Kenanga (Tangsel), Bedok Juara (Banten), dan sebagainya.

“Minat pasar sangat tinggi, bahkan dalam satu bulan, saya bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp 50 juta,” katanya.

Menurut Wanita kelahiran tahun 8 September 1962 ini, pangsa batik Banten bahkan batik Tangsel, sangat diminati para pejabat dari mulai Walikota, Gubenur, bahkan Presiden hingga Duta besar negara sahabat.

“Saya bisa menjual di Amerika sebanyak 5 kodi per empat bulan, bahkan animo masyarakat China untuk memiliki Batik Banten, begitu tinggi, sebanyak 30 kodi bisa laku dijual di China, dan untung di Indonesia, yakni Banten dan sekitarnya sebulan sebanyak 500 potong.

Dia menjelaskan harga batik pun relatif dari mulai Rp 50 ribu hingga Rp 2,5 juta per batik, dengan masa pembuatan selama tiga bulan. (rintho)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 6 + 7 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.