IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Aksi Solidaritas Mahasiswa Pemerhati Hukum Sulawesi Tenggara

Massa yang berunjuk rasa di Kantor Kejaksaan Tinggi Sultra mendapat pengawalan ketat dari aparat Kepolisian.

IndonesiaBicara-Kendari, (04/02/10). Aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Pemerhati Hukum Sulawesi Tenggara, di Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara, kembali ricuh. Bentrok antara staf Kejaksaan Tinggi Sultra, dengan para pengunjuk rasa terjadi ketika menyuarakan insiden penganiayaan mahasiswa La Ode Andri.

Aksi unjuk rasa memanas dengan adanya pelemparan batu oleh demonstran terhadap para Staf Kejaksaan dan aksi tersebut dibalas oleh Staf Kejaksaan dengan melemparkan kembali batu tersebut ke arah demonstran. Beruntung, hal tersebut dapat diredam setelah aparat Kepolisian melerai mereka.

Massa yang dikoordinasi oleh La Ode Guntun, kesal dengan insiden penganiayaan oleh pegawai Kejati Sultra, dalam tuntutannya mereka meminta dan mendesak kepada Kejagung untuk melakukan pembinaan moral. Permintaan juga disampaikan kepada Kepala Kejati Sultra untuk mempertanggungjawabkan insiden penganiayaan.

Selanjutnya, La Ode Guntun meminta Kapolda Sultra untuk menangkap dan menahanan oknum Staf Kejaksaan tersebut dan mendesak DPRD Provinsi Sultra untuk tidak tinggal diam atas insiden penganiayaan mahasiswa.

La Ode Guntun menyatakan apabila tuntutan tersebut tidak ditindak lanjuti dalam waktu 1×24 jam maka jangan ada pihak-pihak yang menyalahkan mahasiswa.

Sementara itu, bertempat di Aula Kejati Sultra para demonstran bertemu dengan Ketua DPRD Provinsi Sultra Drg Sutan Harahap, Wakil DPRD Provinsi Sultra La Pili dan Kajati Sultra Donny Kadnezar Irdan beserta jajarannya. Pertemuan ini dilakukan dengan tujuan untuk melakukan dengar pendapat dengan para demonstran.

Kajati Sultra mengatakan, bahwa pihaknya tetap peduli terhadap penanganan kasus korupsi yang menjadi aspirasi para peserta unjuk rasa, namun hal tersebut harus dipelajari terlebih dahulu. Terkait kasus yang terjadi kemarin (03/02), harus ada hukum sebab akibat, dimana pihaknya sudah berpesan kalau ada aspirasi jangan menggunakan megaphone.

Donny menegaskan dirinya menghormati aksi para demonstran dalam menyampaikan aspirasi, akan tetapi para demonstran juga hendaknya menghormati hak asasi.

Pada kesempatan tersebut Kajati Sultra juga menyampaikan permintaan maaf terkait insiden pemukulan salah seorang mahasiswa oleh Staf Kejaksaan pada 03 Februari 2010. (KmK)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 6 + 7 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.