IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Tempat Relokasi Warga Labuhan Carik Tak Ada Listrik dan Air

Tempat relokasi warga Labuhan Carik saat difoto beberapa waktu yang lalu.

IndonesiaBicara-Bayan, (06/12/10). Janji dan janji itulah yang didapat oleh warga Labuhan Carik, Desa Anyar, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Relokasi ditempat baru ternyata tidak ada sarana air dan pasokan listrik. Pergantian lahan tempat relokasi bagi warga Labuhan Carik cukup memprihatinkan karena lahan yang ada juga belum diratakan.

“Padahal sebelum kami menerima ganti rugi beberapa tahun lalu, pemerintah (Camat Bayan-red) yang kala itu dijabat oleh Drs Faisol berjanji akan memperjuangkan sarana listrik dan air, namun hingga saat ini janji tersebut belum juga terpenuhi,” kata Pak Bentol, ketika ditemui dikediamannya beberapa waktu yang lalu.

Pantauan di lokasi tempat relokasi sudah ada beberapa bahan bangunan seperti batu bata dan pasir yang dikumpulkan oleh warga, namun karena lahan belum diratakan, warga mengalami kerugian karena banyak batu bata rusak dan pasir hilang karena tergerus air hujan.

Bentol juga menyesalkan cara pembagian tanah tempat relokasi, yaitu memanjang dengan lebar hanya 3,20 meter. “Kalau seperti ini cara bagaimana membaginya? Kami mau membangun rumah. Membangun kandang ayam saja masih sempit apalagi membangun rumah. Jadi kalau bisa perlu dilakukan pengukuran ulang, jangan sampai dibelakang hari menimbulkan persoalan baru antar warga,” kata Bentol.

Lebih lanjut Bentol mengakui, ketika datang ke Kantor DPRD Lombok Utara beberapa waktu yang lalu, Anggota Dewan berjanji akan berkunjung ke tempat relokasi, namun hingga saat ini belum ada yang  datang. Padahal masyarakat menunggu kedatangan para Anggota Dewan agar mengetahui secara jelas ukuran lahan per kepala keluarga. Hingga kini masyarakat hanya diberikan janji saja, padahal bangunan Dermaga Carik sudah hampir rampung, sehingga warga khawatir akan dipindahkan secara paksa.

“Kami khawatir warga akan dipindah secara paksa ke tempat relokasi. Kita ingin membangun rumah tapi sarana listrik dan air tidak ada, padahal setiap membangun kita butuh air dan listrik, kecuali setelah usai pembangunan dermaga warga diberi kesempatan untuk membangun rumah, tapi rasa-rasnya itu tidak mungkin”, kata Bentol lagi.

Untuk warga yang memiliki meteran listrik hingga berita ini diturunkan belum ada kepastian pemindahan ke tempat relokasi, karena beberapa waklu lalu, masyarakat juga dijanjikan akan diberikan mesin diesel, namun warga menolaknya. “Pemerintah memang pernah akan memberikan diesel, namun warga menolaknya, karena kalau diterima jangan-jangan meteran listrik yang dimiliki warga tidak dipindah oleh pihak PLN,” tutur Bentol.

Sementara itu, Ali, Ketua RT Labuhan Carik mengatakan, setelah pembayaran lahan diselesaikan oleh pemerintah yang hitungannya Rp 3,5 juta per are, mantan Camat Bayan, Drs Faisol bersama Kepala Desa Anyar meminta warga membeli tanah tempat relokasi seharga Rp 3 juta, yang hingga saat ini belum diratakan dan diukur ulang.

“Kami disini tentu berpikir dua kali untuk mendirikan bangunan tanpa ada air dan listrik. Ketika pembayaran lahan, kertas tempat tanda tangan ditutup sebelah oleh petugas, sehingga kami tidak tahu apa isi dari surat yang kami tandatangani. Lebih-kebih belakangan ini ada petugas dari PLN, yang mengatakan bahwa meter listrik kami akan diganti,” ungkapnya mewakili puluhan warga setempat.

Pada prinsipnya, lanjut Ali, warga Labuhan Carik siap pindah ke tempat relokasi, namun perlu dukungan air dan listrik untuk membangun rumah. “Tanpa air kita tidak bisa membangun dan lahan juga perlu diratakan serta diukur ulang, jangan sampai air dan listrik dibebankan kepada warga. Kehidupan kami miskin, dan rata-rata berprofesi sebagai nelayan yang tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah,” katanya.

Ali menambahkan, keluhan warga ini sudah seharusnya mendapat perhatian pemerintah, karena pembangunan dermaga terus berjalan, jangan sampai baru diperhatikan setelah dermaga selesai . Selain itu meteran listrik yang dimiliki warga jangan sampai diganti oleh pihak PLN, karena ini akan menimbulkan persoalan baru. “Kami tidak mau meteran listrik yang kami pakai sekarang ini diganti. Kami mau aman dan mau cepat saat membangun rumah, jadi tolonglah untuk juga dibuatkan sumur,” harap Ali bersama warga lainnya.

Kehawatiran yang sama juga diungkapkan Camat Bayan, R Tresnawadi, SSos saat menerima kunjungan kerja Komisi I DPRD Lombok Utara, beberapa waktu lalu. Menurutnya hingga saat ini para pekerja belum meratakan dan mengukur ulang lahan relokasi warga, demikian juga dengan penggalian sumur dan saat ini alat penerangan hanya berasal dari lampu petromaks. “Pembangunan dermaga tetap berlanjut, hanya kita khawatir, jika air dan penerangan belum dilengkapi, bisa-bisa masyarakat kami akan digusur dan ini perlu mendapat perhatian baik dari Anggota Dewan maupun pemerintah daerah,” pungkasnya. (pul)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 14 + 9 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.