IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Siswa Tangsel Di Berikan Pemahaman Bahaya Radikalisme

IndonesiaBicara.com-Tangerang Selatan (19/02/12). Setiap manusia memiliki insting membela diri dan hal ini merupakan fitrah manusia, sehingga wajar saja jika sekelompok orang, ada yang melakukan aksi pembelaan dirinya jika merasa saudaranya dinegara atau wilayah lain ditindas. Demikian yang dikatakan psikolog dari Universitas Indonesia (UI), Zora A Sukabdi pada diskusi publik yang digelar oleh Forum Pemuda Lintas Agama Kota Tangsel di Telaga Seafood Serpong, Kota Tangerang Selatan, Sabtu (18/02).

Menurut Zora, insting membela diri kelompok terorisme biasanya lebih ditonjolkan dibanding masyarakat lainnya, sehingga mereka cepat terpancing emosinya jika dirinya atau melihat saudaranya ditindas. “Para pelaku tindakan terorisme memilih aksi-aksinya didasarkan atas keinginan untuk bertindak secara cepat dalam merespon keadaan di sekitarnya. Mereka berpikir bahwa hanya cara kekerasan yang mampu membantu mereka dalam mencapai apa yang mereka cita-citakan dan mendapatkan perhatian sesegera mungkin dari pihak-pihak yang merupakan target penyerangan”, jelas wanita berjilbab ini.

Sementara itu pembicara lain dalam diskusi yang bertema Bahaya Radikalisme dan Terorisme di kalangan masyarakat, Media Zainul Bahri yang juga Dosen UIN Syarif Hidayatullah menjelaskan tumbuh subur paham keagamaan yang radikal hingga melahirkan terorisme dipicu oleh banyak faktor ekonomi yang lemah, pendidikan yang rendah, kepentingan politik, dan salah satu yang terpenting adalah tafsir atas teks-teks agama.

“Yang paling masuk akal dan sesuai dengan kemanusiaan kita adalah memahami dan mempraktikan Islam secara moderat, humanis dan dalam bingkai kedamaian dan kasih sayang, karena model ini adalah yang paling sesuai dengan kultur bangsa kita yang santun dan toleran namun tetap setia dengan agama dan identitas masing-masing”, jelas Media Zainul Bahri.

Praktisi pendidikan yang juga Kabid Pendidikan Menengah pada Dinas Pendidikan Kota Tangsel, dihadapan sekitar 150 peserta diskusi publik, menjelaskan bahwa Provinsi Banten, menurut Kementrian Politik Hukum dan HAM (Kemenpolhukam) masuk tiga besar Provinsi yang rawan tindak terorisme, setelah Provinsi NAD dan Jawa Barat.

“Kota Tangsel merupakan bagian dari Banten sehingga pencegahan tindak terorisme di Banten merupakan tanggung jawab kita bersama yang ada di Tangerang Selatan ini, Dinas Pendidikan Kota Tangsel berusaha mempersiapkan generasi muda yang bebas radikalisme dan terorisme dengan membangun karakter siswa”, kata Didi Rafidi

Lebih lanjut Didi Rafidi menjelaskan pencegahan siswa dari terorisme dan radikalisme bukan hanya tanggung jawab sekolahnya saja, karena lama siswa berada disekolah hanya sekitar 14 persen, sedangkan 86 persen siswa lebih sering diluar sekolah.
“Usaha juga harus dilakukan oleh orangtua dan tokoh-tokoh agama maupun tokoh masyarakat”, katanya.

Selain itu, siswa diharapkan diarahkan dalam kegiatan positif untuk pengembangan diri seperti kegiatan Rohani, Palang Merah Remaja, Pramuka, Parskibra dan berbagai bentuk kegitan lainnya. (rintho).

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 4 + 11 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.