IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Hizbut Tahrir Indonesia NTB: ” Kondom Bukan Solusi HIV/AIDS “

Aksi HTI NTB memperingati Hari AIDS Sedunia, (01/12).

IndonesiaBicara.com–Mataram, (01/12/11). Hizbut Tahrir Indonesia Nusa Tenggara Barat kembali turun kejalan untuk memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 Desember dengan aksi damai disertai long march dari Masjid Raya At-Taqwa Mataram menuju Kantor Gubernur NTB untuk menolak pengunaan kondom sebagai solusi untuk penanggulangan penyebaran HIV/AIDS, kamis pagi (01/12).

Puluhan massa aksi yang terdiri dari kaum adam dan hawa mereka mendatangi Kantor Gubernur NTB Jl Pejanggi Kota Mataram dengan membawa bendera HTI NTB beserta spanduk dan pamplet yang bertuliskan “Hizbut Tahrir Indonesia DPD Nusa Tenggara Barat, Khilafah Janji Allah, Khilafah Wajib, dan Khilafah Solusi, Seks Bebas = Penyebar HIV/AIDS, Bersihkan NTB dari Prostitusi, Basmi HIV/AIDS Dengan Syariah Islam, Selamatkan NTB dari Pariwisata Mesum, Terapkan Syariah Islam Solusi HIV/AIDS dan Kondom Bukan Solusi HIV/AIDS ”.

Aksi massa Hizbut Tahrir Indonesia NTB ini dibawah kepemimpinan Ustad Salman Faris yang didampingi oleh Ustad Nasfarin, menunjukkan sikap penolakan terhadap pengunaan kondom dan keprihatian terhadap tingginya laju penularan HIV/AIDS di Propinsi NTB yang dimana upaya penaggulangan melalui program pemerintah terkait pengunaan “Kondom” tidak kunjung menyelesaikan masalah.

Hizbut Tahrir Indonesia NTB dengan tegas menolak program kondom yang dicanangkan oleh pemerintah, dan dalam penyataan sikapnya yang bertema “Penerapan Syariah Islam adalah solusi tuntas penyebaran HIV/AIDS bukan kondom dan bersahabat dengan pelaku zina”.

“Dalam Islam, seks bebas adalah prilaku menyimpang dan merupakan aktivitas maksiat yang harus dibasmi dan bukan di pelihara. Meningkatkan sistem pergaulan sesuai dengan syariah Islam ditingkat individu seperti meningkatkan ajaran mengenai aurat, larangan khalwal dengan non-muhrim, larangan untuk tabaruj (berdandan ketika keluar rumah) bagi wanita, larangan ikhtilat (campur baur pria dan wanita), larangan berzina, serta kewajiban gadhdhul bashar (menjaga pandangan)”, ucap Ustad Salman Faris.

“Oleh karena itu, solusi terbaik adalah dengan melaksanakan syariah secara kaffah dan sempurna yang hanya bisa dilaksanakan dengan khilafah, khilafah adalah negara yang menjadikan Islam sebagai ideologinya dan syariah sebagai operasionalnya dan dengan khilafah maka mayoritas penyebaran HIV/AIDS dengan seks bebas bisa dihapuskan”, lanjut Ustad Salman Faris.

Ditambahkannya, negara Indonesia menyimpan cacat bawaan yang membuat solusi syariah Islam tidak bisa dilaksanakan secara kaffah, cacat bawaan tersebut yaitu ideologi negara yang bersifat kapitalisme dengan akidahnya sekulerisme yang tidak mengizikan Islam mengatur kehidupan publik ” ujarnya. (Ary)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 10 + 15 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.