IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Pecalang, Pengemban Misi Keamanan Adat

IndonesiaBicara-Amlapura, (04/07/11). Pecalang sebagai perangkat yang mengemban misi fungsi kepolisian yakni pengamanan adat dilingkungan wilayah adatnya, harus tunduk dengan hukum adat dan bersinergi dengan kepolisian dalam mewujudkan pola keamanan swakarsa.

Demikian diutarakan Ketua MMDP Kab. Karangasem I Wayan Arthadipa, saat bertatap muka dengan masyarakat adat belum lama ini.

Dikatakannya, secara hakekat pecalang dan kepolisian sesungguhnya sama-sama pengemban fungsi kepolisian. Perbedaanya, pecalang pengemban fungsi kepolisian dalam konteks desa adat, sedangkan kepolisian dalam konteks negara kesatuan Republik Indonesia.

Secara formal hubungan yang terjadi antara kepolisian dan pecalang adalah hubungan kelembagaan dalam konteks negara kesatuan Republik Indonesia, di mana pecalang berstatus membantu kepolisian dalam mengemban fungsi kepolisian. Sejalan dengan itu, kepolisian berkewajiban membina pecalang.

Secara informal hubungan pecalang dengan kepolisian dilihat dari hubungan individu yang ditentukan oleh kepribadian dan kemampuan pihak yang berhubungan yang kemudian melahirkan kesan terhadap pihak yang berhubungan ini mempengaruhi hubungan formalnya.

Pecalang memiliki peran penting dalam fungsi menjaga keamanan desa, sehingga harus diatur dalam Perda No 3 Tahun 2001 yang telah diubah dengan Perda 3 Tahun 2005, tentang Desa Pakraman.

Berangkat dari makna yang tersurat dalam Perda tersebut, dapatlah dipastikan bahwa pecalang adalah perangkat desa yang dibentuk dan diatur dengan Hukum Adat.

Kita ketahui bersama bahwa Hukum Adat yang berlaku di Desa Pakraman di Bali adalah bersumber dari Hukum Agama Hindu, karena itu pecalang dalam berfikir, berkata dan bertindak tentulah tidak boleh bertentangan dengan Hukum Adat yang mengaturnya (Hukum Agama Hindu) dan juga Hukum Nasional yang mampu memberi kenyamanan, keamanan dan keadilan masyarakat.

Ditandaskan, pecalang yang memiliki arti pengendalian diri, didalam Sarasamuscaya disebut bahwa diantara makhluk hidup yang diciptakan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, manusialah paling beruntung karena ia memiliki Tri Premana yaitu Sabda, Bayu, Idep (dapat berkata, berbuat dan berfikir).

Manusia dapat berbuat yang paling baik dan paling buruk sekalipun karena itu perlu ada pembinaan-pembinaan khususnya pembinaan agama dan punya Budhi Pekerti/pembinaan sikap dan mental sehingga mampu bertindak patut menurut Agama dan Hukum.

Gerak-gerik, motivasi, keinginan manusia bersumber dari fikiran, melalui fikiran yang baik, timbulah perkataan yang baik dan dari perkataan yang menyenangkan akan terjadilah sikap dan perbuatan yang baik pula.

Dalam Bhagawadgita VI : 34-35 dikatakan bahwa pikiran manusia itu sangat banyak jumlahnya, lebih banyak dari rumput-rumput yang anda lihat, bahwa jalannya lebih kencang dari anak panah yang dilepas dari busurnya dan sangat cepat.

Karena itu jika tidak dikendalikan dengan baik (dibawa melalui ajaran agama dan ajaran kesusilaan) maka tidak mustahil bahwa pikiran-pikiran manusia itu dapat menimbulkan bermacam-macam hal, apakah itu kebaikan atau keburukan, bahkan bisa bersifat fatal.

Fikiran sebagai sumber indria, jika tidak dikendalikan bisa seperti kuda liar, karena itu patut dikendalikan. Bagaimana cara pengendaliannya, agama telah memberi banyak tuntunan sebagaimana disebut dalam Dasa Niyama Brata yaitu Dhana (suka beramal tanpa pamrih), Ijya (Bhakti terhadap Tuhan dan Leluhur), Tapa (melatih diri untuk menahan emosi), Dhyana (Memusatkan pikiran pada Hyang Widhi), Upasthanigraha (mengendalikan hawa nafsu), Swadhyaya (tekun mempelajari ajaran kesucian), Bratha (taat akan janji dan sumpah), Upawasa (melaksanakan pantangan terhadap makan dan minum), Mona (bersikap diam atau membatasi diri terhadap perkataan yang dapat menimbulkan pertengkaran), Jnana (menyucikan diri melalui pembersihan jasmani dan rohani).

Disampingitu ada pula lima pengendalian diri yang berkaitan dengan tindakan yang disebut Panca Yama Brata yaitu Brahmacari , tidak berhubungan sex ketika masih menuntut, ilmu, Awyawahara melaksanakan usaha berdasarkan kedamaian hati, Astenya tidak korupsi dan tidak mencuri, Satya selalu menjaga kebenaran, kejujuran dan kesetiaan, Ahimsa tidak menyakiti dan membunuh.

Lima pedoman pengendalian diri lain yang berhubungan dengan mental spiritual yakni Panca Niyama Brata yaitu Akrodha tidak marah, tidak anarkis, Guru susrusa tekun, patuh, hormat pada ajaran guru, Sauca kesucian lahir batin, Ahara Lagawa pengendalian diri terhadap makan dan minum, Apramadha sifat sederhana tidak sombong, mengamalkan ajaran agama dengan baik.

Dengan pedoman tersebut dijarapkan lambat laun secara bertahap dan pasti, semua tindakan akan dapat terukur berdasarkan bingkai kebenaran (Agama), sebagai seorang pecalang yang akan berhadapan langsung dengan masyarakat dengan berbagai karakter dan prilaku, jika tidak dilandasi dengan pondasi yang kokoh (Budi Pekerti) yang baik maka besar kemungkinan akan dapat bertindak emosi dan berakibat patal dalam melaksanakan tugas Desa Pakraman.

Belakangan ini sebagaian masyarakat beranggapan pecalang mulai melenceng fungsi dan tugasnya, misalnya Pecalang dengan seenaknya menghentikan kendaraan dijalan yang berada didepan/berpapasan dengan rombongannya dengan berteriak dengan lantangnya menyuruh pengendara menepi, padahal rombongan tersebut masih jauh.

Sikap dan tindakan Pecalang lainnya yang terkadang terpaksa diterima oleh masyarakat misalnya saat kegiatan upacara pernikahan maupun ngaben, jalan yang digunakan ditutup dan dijaga dengan ketat, seenaknya memerintahkan para pengguna jalan untuk mencari jalan alternatif, tanpa ada penjelasan atau keterangan kepada pengguna jalan, mereka harus lewat jalan mana.

Padahal ada beberapa diantara mereka yang mungkin akan pulang kerumah dan hanya tinggal sedikit lagi jarak kerumahnya, terpaksa memutar mencari jalan lain.

Saat ini pecalang sangat identik dengan sikap arogansi, sok jagoan, dan sok berani. Kesan masyarakat seperti itu bisa saja akibat tidak ada proses seleksi yang baik.

Seleksi yang dimaksud tidak harus seleksi secara formal tetapi cukup dengan seleksi informal, cukup memperhatikan masyarakat yang kira-kira memiliki budhi pekerti berupa mental yang baik dan mampu melayani masyarakat, sehingga pecalang dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat sekitar, dan mampu berkomunikasi dengan baik dan ramah kepada masyarakat lain, sehingga secara tidak langsung kita mempertahankan kesan masyarakat Bali yang ramah di tingkat internasional.

Beberapa Desa Pekraman sudah melakukan hal tersebut, para pecalang ditunjuk oleh Kelihan Adat, dan mereka sangat menjaga sikap perilaku mereka, dengan bertutur kata yang sopan. Pecalang yang bertugas seharusnya mau berkomunikasi dengan pengguna jalan yang lain, minta permakluman kepada mereka jalan ditutup sementara karena ada kegiatan upacara adat. Apabila ada rumahnya yang dekat, setidaknya pecalang bisa memberikan dispensasi kepada mereka, dan apabila ada pengguna jalan yang bertanya harus lewat mana, seharusnya pecalang mau memberikan informasi yang benar dengan sikap persahabatan.

Pecalang berasal dari kata calang dan menurut theologinya diambil dari kata celang yang dapat diartikan waspada. Dari sini dapat kita artikan secara bebas, pecalang adalah seseorang yang ditugaskan untuk mengawasi keamanan desa adatnya. Ibaratnya sebagai petugas keamanan desa adat.

Pecalang telah terbukti ampuh mengamankan jalannya upacara-upacara yang berlangsung di desa adatnya, bahkan secara luas mampu mengamankan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan khalayak ramai.

Pengalaman terjadinya tragedi bom Bali I tahun 2002 memicu kesadaran bahwa keamanan Bali belum begitu baik, mungkin sangat longgar atau penuh toleransi. Masyarakat Bali sadar persoalan keamanan dan pengamanan Bali tak bisa diserahkan sepenuhnya kepada aparat, khususnya kepolisian.

Pecalang pun kemudian menjadi organ alternatif, untuk lebih difungsikan. Perda Nomor 3 Tahun 2001 tentang Desa Pekraman memberi penegasan eksistensi pecalang. Dalam Bab X pasal 17 perda tersebut secara khusus diatur perihal pecalang. Untuk memperkuat eksistensi pecalang berbagai seminar sudah dilakukan.

Seminar di Gianyar pada Juni 2001 menghasilkan sesana (etika) pecalang yang terdiri dari unduk (perihal), busana, gegawan dan pasuwitraan pecalang. Tujuan utama dari dibentuknya pecalang adalah guna menjaga keamanan adat dan lingkungan di banjar setempat.

Perubahan sosial memungkinkan terjadinya peningkatan mobilitas penduduk, intensitas interaksi sesama manusia dan perekonomian, yang secara umum berpengaruh pada keteraturan kehidupan masyarakat desa adat di Bali. Lebih dalam, perubahan sosial juga berpengaruh pada peningkatan intensitas dan ragam kegiatan sosial yang berimplikasi pada perubahan tugas dan fungsi pecalang yang ada di desa adat.

Perubahan yang terjadi pada tugas dan fungsi pecalang menimbulkan polemik di masyarakat sehingga dipertanyakan eksistensi pecalang.

Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa telah terjadi perluasan tugas dan fungsi pecalang untuk mengimbangi peningkatan intensitas dan ragam kegiatan sosial, kendatipun peraturan daerah menentukan bahwa pecalang merupakan satuan tugas tradisional yang bertugas mengamankan kegiatan yang berkaitan dengan adat dan agama di wilayah desa adat.

Fakta menunjukkan bahwa pecalang juga melakukan tugas mengamankan kegiatan di luar kegiatan adat, agama, bahkan mengamankan kegiatan adat warganya sampai ke luar wilayah desa adat. Misalnya : kegiatan waspada teroris, perayaan Natal, Idul Fitri dan kegiatan nasional lainnya.

Pecalang ditunjuk sesuai dengan kata ’celang’ agar mereka mampu bersikap waspada, hati-hati dalam bertindak agar keamanan dan kenyamanan desa adat terjaga, secara luas dapat memberikan perlindungan dan memberikan rasa aman kepada masyarakat, bukan dengan cara menakut-nakuti masyarakat.

Dalam menjaga keamanan jalannya upacara adat yang berlangsung di lingkungan desa, apabila harus menutup jalan, setidaknya bisa memberikan jalan alternatif kepada pengguna jalan yang lain, dan mampu memberikan penjelasan kepada mereka bahwa ada penutupan jalan dengan sikap yang ramah.

Mari kita berpikir bagaimana memberikan pelayanan dengan solusi (service with solution) tentunya berdasarkan ”Budhi Pekerti”. Diajak, agar semua komponen masyarakat sama-sama renungkan dan introspeksi diri, sehingga kesan pecalang seperti diatas dapat kita hilangkan. (*)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 14 + 2 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.