IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

KAMMI dan BEM NTB Tuntut Kontrak Politik Gubernur dan Wakil Gubernur NTB

IndonesiaBicara.com–Mataram, (14/04/11). Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan gabungan Banan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas di NTB mengelar aksi menuntut janji Gubernur dan Wakil Gubernur NTB.

Aksi unjukrasa yang dilakukan mahasiswa itu dalam rangka menuntut janji politik dan komitmen yang dulu pernah dibuat oleh pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB dengan organisasi mahasiswa, yaitu pasangan Bajang-Badrul atau lebih dikenal dengan pasangan Baru.

Ahmad Dahlan selaku Koordinator Aksi dalam orasinya menegaskan, bahwa dulu semua pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB pernah membuat sedikitnya 11 poin kontrak poltik dan komitmen dengan sejumlah organisasi mahasiswa yang akan dilaksanakan apabila terpilih.

”Waktu itu Calon Gubernur dan Wagub terpilih yaitu pasangan Baru juga sepakat dengan kontrak politik itu,” tegasnya.

Dahlan menambahkan, dari 11 poin kontrak poltik itu diantaranya, di bidang pendidikan dengan berjanji menyediakan pendidikan gratis dan bermutu bagi masyarakat NTB yang tidak mampu, kemudian dibidang hukum, bidang kesejahteraan masyarakat, perekonomian, kesehatan, pariwisata dan pemberdayaan perempuan hingga saat ini semua janji itu dinilai masih belum ada yang dituntaskan.

”Kini mimpi mereka belum terwujud, padahal sudah memasuki tahun ke-3 kepemimpinan baru, posisi IPM (Indeks Pembangunan Manusia-Red) masih diurutan ke dua paling bawah,” tegasnya.

Massa yang beraksi juga membawa raport merah dari janji atau kontrak politik Gubernur terpilih yang kemudian mengisi dengan membubuhkan nilai merah sebagai bentuk protes mereka terhadap kontrak politik yang dinilai masih belum terlaksana.

Selain itu, mahasiswa itu juga membawa pamflet-pamfet yang bertuliskan kata-kata pelesetan dari program unggulan pemerintah provinsi NTB yang tengah digalakkan diantaranya, Bumi Sejuta Sapi (BSS) dipelesetkan menjadi “Bumi Sejuta Sengsara”, kemudian Program Absano, Akino dan Adono mereka tambahkan dengan kata Akino, Absano, Adono, Ape Jagak No.”

Masa aksi yang melakukan aksi sempat mendesak agar mereka diizinkan bertemu dengan Gubernur NTB, akan tetapi hal itu tidak terwujud hingga massa membacakan pernyataan sikapnya, yaitu mendesak menuntut pelaksanaan kontrak politik yang sudah dibuat, penyelesaian konflik divestasi, serta komitmen untuk mundur dari jabatan jika apa yang ada didalam kontrak politik tidak dilaksanakan atau tercapai dalam dua tahun terakhir.

Karena kecewa tidak ada perwakilan Pemprop NTB, setelah selesai membacakan pernyataan sikap massa membubarkan diri dengan tertib dan aman dengan pengawalan Aparat Kepolisian. (Ary)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 10 + 9 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.