IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

IJ Kasimo Layak Dianugerahi Pahlawan Nasional

IndonesiaBicara-Kupang, (29/07/11) Ignatius Joseph (IJ) Kasimo (1900-1986) layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia. Selain mempunyai andil dalam memperjuangkan kemerdekaan, Kasimo memiliki sikap yang patut diteladani, yakni dalam berpolitik selalu beretika dan bermartabat.

Hal ini mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk Politik Bermartabat, Kajian tentang Perjuangan dan Pengabdian IJ Kasimo yang digelar di Aula A-300 Lantai III Kampus Unwira Kupang. Kegiatan berkaitan dengan pengajuan gelar pahlawan nasional bagi IJ Kasimo ini dibuka Wakil Gubernur NTT, Esthon Foenay dihadiri juga Rektor Unika Kupang, Yulius Yasinto .

Seminar menampilkan narasumber, JB Sudarmanto (penulis buku biografi IJ Kasimo), Daniel Dhakidae dan Pdt Nico Wolly. Bertindak sebagai moderator Urbanus Ola Hurek.

IJ Kasimo adalah tokoh pendiri sekaligus pemimpin Partai Katolik. “Kasimo terjun ke politik bukan untuk mencari uang dan pangkat, melainkan didasarkan pada tanggung jawab kemanusiaan. Kasimo memiliki etika, jujur dan bermartabat. Ia sangat sederhana, dan itu tampak dalam kehidupan sehari-harinya. Ia memberi tanpa menerima, selalu berkorban dan berpihak kepada masyarakat. Kasimo pantas jadi Pahlawan Nasional,” kata Sudarmanto.

Daniel Dakhidae juga mengatakan, IJ Kasimo layak mendapat gelar pahlawan nasional. Mengapa perlu sekarang? Karena ini, inilah momen paling mengenaskan dimana telah terjadi kehilangan moral responsibility.

“Kehidupan politik masa kini sudah begitu tanpa karakter. Politik sekarang menganggap prinsip sebagai ketololan. Sekarang otak sudah tidak ada hubungan dengan raga. Tangan bergerak sendiri tanpa komando. Bicara martabat sekarang adalah sesuatu yang mewah. Telah terjadi the sick body politics yang sangat memerlukan role mode. Kondisi ini diperlukan tokoh seperti Kasimo,” kata Dakhidae.

Menurutnya, Kasimo tokoh minoritas. Namun dalam berpolitik, di kepala Kasimo tidak ada minoritas dalam konsep kewarganegaraan atau citizenship. Minoritas dan mayoritas adalah konsep stastitik bukan konsep kewarganegaraan. Kasimo dengan politics of dignity memenuhi kehausan masyarakat. Ia membuktikan dalam sejarah hidupnya bahwa ketegasan menghormati masyarakat. “Tokoh seperti Kasimo sangat dirindukan semua orang,” katanya.

Pendeta Nico Wolly yang berbicara dari perspektif etika politik Kristen mengatakan, politik sebagai proyeksi iman yang bertanggun jawab. Politik bermartabat, politik yang lahir dari kesadaran iman. Politik proyeksi iman hanya dapat diperoleh dengan keterkaitan dengan institusi gereja. Artinya, politik etis dilakukan oleh orang yang bergereja dan menggereja. Oleh karena itu, kita perlu belajar dari Kasimo.

Mantan anggota DPRD Propinsi NTT ini mengungkapkan, selain IJ Kasimo, ada tokoh Johannes Leimena, pendiri Partai Kristen Indonesia (Parkindo).  Leimena lahir di Ambon, 6 Maret 1905 dan meninggal  29 Maret 1977. Sebagai penghargaan kepada jasa-jasanya, pemerintah Indonesia pada November 2010 memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Leimena. Artinya, sudah 25 tahun baru Johanes Leimene dianugerahi Pahlawan Nasional.

Sementara, IJ Kasimo yang lahir tahun 1900 dan meninggal tahun 1986, baru diusulkan dianugerahi pahlawan nasional pada tahun 2011. “Ditinjau dari aspek tingkah laku, apakah ini normal?” tanya Nico Wolly.

Wakil Gubernur NTT, Esthon Foenay mengatakan, IJ Kasimo sebagai tokoh pendiri sekaligus pemimpin Partai Katolik yang beretika dan bermartabat. Nilai-nilai yang diajarkan IJ Kasimo sangat relevan dengan kondisi sekarang. Oleh karena itu, perlu terus ditumbuhkan.(AP)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 14 + 12 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.