IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Demi Seremonial PGRI Puluhan Ribu Pelajar Tak Mendapat Pengajaran

IndonesiaBicara-Tangerang, (24/11/11). Pelaksanaan seremoni HUT PGRI Kabupaten Tangerang, puluhan ribu pelajar tingkat SD, SMP dan SMA tak mendapat pengajaran dari guru. PGRI memutuskan meliburkan guru yang dengan sendirinya meniadakan kegiatan belajar (KBM) mengajar bagi pelajar sejak Kamis (24/11) hingga Jumat (25/11).

“Kami memutuskan meliburkan pelajar se-Kabupaten Tangerang demi kegiatan HUT PGRI,” terang Kosrudin, Ketua PGRI Kabupaten Tangerang, saat dihubungi wartawan, kemarin (24/11).

Terang Kosrudin pelajar diliburkan demi suksesi pelaksanaan HUT PGRI yang dipusatkan di Lapangan Maulana Yuda Negara di Tigaraksa. Acara sendiri diantaranya gerak jalan, sekolah berprestasi dan juga pertandingan lainnya dengan total 9 kegiatan yang bersifat seremonial. Akibat keputusan ini sebanyak 993 sekolah dasar negeri (SDN) terdiri dari 38.607 pelajar, 103 sekolah menengah pertama negeri (SMPN) terdiri dari 35.478 pelajar, 54 sekolah menengah atas (SMA) terdiri dari 12.747 pelajar dan 10 SMK terdiri dari 1856 pelajar tidak mendapat pengajaran.

“Liburnya Kamis dan Jumat,” ucapnya.

Soal kerugian pelajar atas tidak terlaksananya kegiatan belajar mengajar atas keputusan libur yang diambil PGRI, Kosrudin menerangkan hal tersebut hanya dampak dari kegiatan yang dilakukan satu tahunan tersebut.

Karena organisasi PGRI merupakan wadah para guru yang ada di Kabupaten Tangerang, menurut Kosrudin maka tidak salah apabila perayaan dilangsungkan dengan meriah.

“Saat Sea Games saja, diliburkan selama 7 hari. Jadi wajar kalau HUT PGRI juga diliburkan dua hari mengingat pentingnya acara tersebut,” paparnya.

Hal mengejutkan dikemukakan Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Tangerang Eni Suhaeni malah menyayangkan keputusan PGRI yang meliburkan KBM selama dua hari.

Apalagi terang Eni, harusnya untuk meliburkan KBM, wajib ada koordinasi antara pihak-pihak terkait. Tujuannya membuat rujukan bersama secara tertulis sebagai dasar hukum bagi PGRI guna membuat keputusan meliburkan sekolah.

“Saya melihat harusnya tidak usah diliburkan. Toh acara sebatas seremonial bisa dilakukan dua atau tiga jam saja,” ucap Eni.

Karena libur ini, terang Eni, ribuan pelajar yang ada di Kabupaten Tangerang merugi. Pasalnya, tidak ada pelaksanaan belajar mengajar selama dua hari yang sama artinya menyetop transformasi ilmu pendidikan. Dampaknya sangat luas bagi kemajuan anak didik. Disisi lain, negara juga rugi atas pelaksanaan libur. Karena negara membayar gaji pegawai yang tidak melaksanakan tugasnya.

“Pelajar jelas rugi karena tidak ada kegiatan belajar mengajar. Sisi lain, negara juga dirugikan karena membayar pegawai yang tidak bekerja karena libur sepihak,” paparnya.

Atas libur ini, Eni meminta agar Dinas Pendidikan memberikan peringatan keras. Dewan Pendidikan sendiri terang Eni akan meminta penjelasan karena lembaga yang dipimpinnya lebih sebatas kepada pengawasan proses KBM di wilayah Kabupaten Tangerang.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Bambang Mardi mengaku pihaknya tidak mengeluarkan surat ijin resmi libur untuk pelajar. Dengan kata lain, libur tersebut adalah keputusan sepihak dari PGRI kepada para guru yang berimbas pada KBM murid.

“Itu agenda PGRI. Dinas sudah merekomendasikan surat melarang pelaksanaan libur selama pelaksanaan HUT PGRI,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 11 + 14 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.