IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Cupak Gurantang Sebagai Media Sosialisasi Tanggap Bencana

IndonesiaBicara-Lombok Utara, (31/03/10). Kabupaten Lombok Utara (KLU) dikenal sebagai daerah dengan kekayaan khasanah budaya dan tradisi yang menyimpan kekayaan seni untuk bisa dimanfaatkan sebagai media sosialisasi. Salah satu kesenian yang baru-baru ini dimanfaatkan oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Meleko Bangkit bersama LSM Koslata untuk sosialisasi tanggap bencana adalah cupak gurantang.

Dalam acara yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Kelautan dan Kehutanan (DPPKP) KLU , Ir Lalu Mustain, MM, Ketua LSM Perekat Ombara, Kamardi, SH, Kades Jenggala, M Urip, Spd, dan Ketua LSM Koslata, Achmad Junaedi, SH, dimeriahkan oleh pementasan cupak gurantang sehingga menyedot animo masyarakat untuk menghadiri acara ini.

Terdapat sekitar 300 penonton dari masyarakat sekitar untuk menonton pertunjukan acara ini. Panitia acara dari KTH Meleko Bangkit menyatakan disamping bertujuan menghibur pihaknya juga berniat mengadakan sosialisasi penanggulangan resiko bencana berbasis masyarakat dan memperingati ulang tahun KTH Meleko Bangkit yang pertama.

“Di masa mendatang masyarakat diharapkan mampu menanggulangi bencana dan disamping itu pihaknya akan berupaya mengusahakan perijinan pengelolaan hutan kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan hutan secara legal, sehingga kemakmuran masyarakat disekitar hutan tercapai dan kelestarian hutan terjaga,” ujar Ketua LSM Koslata, Ahmad Junaedi, SH didepan para tamu undangan.

Sedangkan Kepala DPPKP, Ir Lalu Mustain, MM mengharapkan program yang dicanangkan ini dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Disamping itu pihaknya juga menyoroti tentang debit sungai yang berada di KLU yang kian hari semakin menyurut. “ Kondisi ini mengindikasikan terjadinya kerusakan di kawasan resapan air dalam hal ini hutan,” ungkapnya.

Pihaknya juga menghimbau kepada masyarakat agar dapat membantu DPPKP dalam mengantisipasi pengrusakan hutan yang tidak bisa dipungkiri lagi kerap terjadi. “Jumlah personil kehutanan di KLU masih sangat minim hanya berjumlah 8 orang sehingga sangat kurang dengan luas hutan yang ada,” terang Lalu Mustain.

Slogan KLU sebagai daerah yang bebas pencuri dan bebas pengemis sebagai indikator kemakmuran dan kearifan lokal masyarakat hendaknya terus dijaga. Tapi apakah benar KLU bebas dari pencuri kayu, hal tersebut hendaknya menjadi renungan bersama. (pul)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 2 + 9 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.