IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Yan: Pemerintah Belanda Akan Mendukung Penyelesaian Konflik Papua Secara Damai

IndonesiaBicara-Manokwari, (02/11/11). Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari Yan Christian Warinussy yang juga merupakan Pembela Hak Asasi Manusia dari Indonesia berkesempatan bertemu dan berdiskusi langsung dengan Duta Besar Hak Asasi Manusia dari Kementerian Luar Negeri Kerajaan Belanda,  Lionel Veer dan Wakil Kepala Divisi Urusan Asia Tenggara dan Oceania pada Kementerian Luar Negeri Belanda, Dave Van den Nieuwenhof.

Menurut Yan saat dikonfirmasi melalui pesan singkat dan surat elektronik, dalam pertemuan tersebut, dirinya menjelaskan kepada kedua pejabat tinggi di Kementerian Luar Negeri Kerajaan Belanda tentang situasi dan kondisi Hak Asasi Manusia di Tanah Papua dimana dalam dua tahun terakhir terus-menerus memburuk, karena meningkatnya kasus penembakan yang menimpa masyarakat sipil di Jayapura, Timika/Tembagapura, Puncak Jaya dan kawasan pegunungan tengah Papua.

Para pelaku penembakan tersebut oleh aparat keamanan senantiasa dikategorikan sebagai Orang Tidak Dikenal, kata Yan yang saat ini masih berada di Den Haag, Belanda.

Yan kemudian malanjutkan puncak dari kasus pelanggaran HAM di Tanah Papua terjadi pada hari Rabu, (19/10) ketika sejumlah aparat keamanan dari Polri dan TNI di bawah komando langsung dari Kapolresta Jayapura dan Kapolda Papua serta Dandim 1702 Jayapura telah melakukan tindakan “penyerangan” dan menembak mati warga sipil yang ada di sekitar lapangan Zakheus-Padang Bulan-Abepura.

Akibatnya enam orang warga sipil tewas, 300 orang luka-luka, dan masih ada yang dirawat di rumah sakit di Abepura dan Waena. Sementara 17 orang lainya hilang dan enam orang ditangkap dan ditahan hingga saat ini. Keenam orang yang ditangkap adalah Fokorus Yaboisembut, Edison K Waromis, Dominikus Sorabut, Selpius Bobii, Gat Wenda dan Agust Makbrawen Sananay Kraar.

Yan yang pernah meraih penghargaan internasional di bidang HAM, John Humprey Freedom Award tahun 2005 lalu di Kanada menyatakan eskalasi kekerasan di Tanah Papua justru semakin meningkat dalam dua tahun terakhir ini, seiring dengan adanya kemauan baik dari rakyat Papua untuk meminta diselenggarakannya Dialog Papua-Indonesia untuk mencari solusi dalam menjadikan Papua Tanah Damai.

Terbukti semenjak Deklarasi Papua Tanah Damai pada Konferensi Perdamaian Tanah Papua pada bulan Juli lalu, justru kasus penembakan “misterius” makin meningkat dan senantiasa tanggung jawab dilemparkan oleh petinggi keamanan di Tanah Papua sebagai ulah kelompok TPN/OPM. Dan tidak pernah ada pembuktian secara hukum yang bisa menjamin kebenaran secara de facto maupun de jure bahwa pelaku penembakan dimaksud benar-benar berasal dari TPN/OPM di Tanah Papua.

Sebagai Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPP PERADIN dirinya menuturkan bahwa bersama-sama dengan Jaringan Damai Papua di bawah pimpinan Pater Nelest Tebay telah mendesak agar Pemerintah Indonesia dan masyarakat internasional untuk turut mendukung bagi terselenggaranya Dialog Papua-Indonesia tersebut demi mencari solusi yang damai dengan pendekatan hati sesuai amanat Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pidato Kenegaraan, 16 Agustus 2011 lalu.

Menurut Pemerintah Kerajaan Belanda, saat ini dialog merupakan media yang sangat baik untuk menyelesaikan konflik di Tanah Papua. Oleh karena itu, Pemerintah Belanda pasti akan mendukung jika langkah-langkah penyelesaian konflik secara damai menjadi pilihan rakyat Papua dan Pemerintah Indonesia, pungkas Yan. (Irsye)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Berapa jumlah 13 + 7 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.