IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Tahun Kesedihan Bagi Perempuan Indonesia

IndonesiaBicara-Pekanbaru,(20/02/12). Dipertontonkannya saksi sekaligus tersangka Angelina Sondakh di media televisi seolah-olah menjadi puncak “tahun kesedihan” bagi perempuan Indonesia dengan makin maraknya perempuan Indonesia yang terlibat pada dugaan skandal korupsi.

Sebelum Anggelina Sondakh sederet nama perempuan Indonesia disebut-sebut terkait dengan kasus korupsi, seperti Harini Wijoso (Kasus Pengacara Probosutedjo,), Artalita Suryani (Kasus Jaksa Suap Urip Tri Gunawan), Imas Dian Sari (Kasus Hakim Adh Hoc-Penerimaan suap terkait sengketa industrial PT Onamba Indonesia),  NI Luh Marianti Tirtasari (Kasus Cek Pelawat), Miranda Gultom, (Tersangka Kasus Cek Pelawat), Nunun Nurbaety (Tersangka Cek Pelawat), Wa Ode Nurhayati (Tersangka Kasus Banggar), Mindo Rosalina Manulang (Tersangka Kasus Wisma Atlet)

Korupsi diyakini bak penyakit kanker yang merupakan pertumbuhan sel yang tak terkendali merusak jaringan setempat dan menjalar ke tempat yang lain. Penyakit menular itu kini telah mengincar kaum perempuan Indonesia. Tidak sampai disitu saja, para perempuan yang terlibat skandal korupsi mempunyai peranan kunci dalam praktik korupsi.

Skandal korupsi yang menimpa perempuan Indonesia di atas menjadi keprihatinan bagi kalangan penggerak dan pejuang hak-hak kesataraan perempuan (responsive gender) dari bias gender yang ada selama ini telah ternodai oleh segelintir perempuan Indonesia yang tergoda dan terlibat pada skandal korupsi besar.

Ibarat pepatah mengatakan,”karena nila setitik, rusak susu sebelanga”.  Tidak saja citra perempuan yang rusak, dikhawatirkan skandal perempuan korupsi ini  bisa menjadi pintu masuk menjangkiti kaum perempuan Indonesia lainnya. Sebab pada faktanya, pelaku maupun tersangka cenderung selalu ada hampir disetiap tahunnya.

Tidak saja pada tataran nasioanl, skandal korupsi juga menjangkiti pada tingkat daerah seiring dengan adanya pemerintahan otonomi daerah. Kasus-kasus korupsi di daerah juga melibatkan perempuan. Mantan Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari, misalnya, menjadi tersangka korupsi pembebasan lahan senilai Rp 19 miliar. Lalu, Kabid Usaha Tani Dinas Perkebunan Jatim Rini Sukriswati menjadi buron dalam kasus korupsi petani tebu Rp 28 miliar.

Mencermati  fenomena skandal korupsi perempuan Indonesia tersebut dipandang perlu untuk mereposisikan penguatan nilai-nilai perempuan Indonesia dalam rangka mengembalikan citra dan kapabilitas perempuan Indonesia dalam memimpin diruang publik.

Oleh karena itu perempuan Indonsia harus diselamatkan dan dibebaskan dari pengaruh praktik-praktik korupsi. Seyogyanya perempuan Indonesia mampu menjadi suri tauladan bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya. (Riana Hariesti, Wakil Ketua Bidang Sarinah GMNI Pekan Baru)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Berapa jumlah 2 + 11 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.