IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Seminar: Tan Malaka In Memoriam

IndonesiaBicara.com-Tangerang Selatan, (08/03/10). “Pada tahun 1946, saat saya masih berumur sekitar 12-13 tahun Tan Malaka pernah bersembunyi di rumah keluarga Nasution selama kurang lebih tiga bulan. Dalam persembunyiannya banyak ilmu yang disampaikan Tan Malaka kepadanya, salah satunya adalah kalau ada perampok masuk kerumah, maka harus diusir sekuat tenaga. Mungkin ini maksudnya adalah jika ada negara penjajah masuk ke negara kita maka harus kita usir dengan semangat sekuat tenaga,” papar Adnan Buyung Nasution.

Hal ini terungkap saat Adnan Buyung Nasution menjadi pembicara dalam seminar mengenang Tan Malaka di Student Center Kampus UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, Senin (08/03).

Seminar yang mengangkat tema “In Memoriam 61 Tahun Hilangnya Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia dan Pahlawan Kemerdekaan Nasional” menghadirkan empat orang pembicara, diantaranya Prof Dr H Adnan Buyung Nasution SH, Guru Besar Ilmu Komunikasi FISIP UI Prof Dr Zulhasril Nasir, Peneliti LIPI Prof Dr Asvi Warman Adam dan Dosen Pendidikan dan Peneliti Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Muhamad Arif M Pd.

Zulhasril Nasir mengatakan Tan Malaka sebenarnya tidak mempunyai apa-apa selain kegigihan dan semangat untuk mengusir penjajah dari Indonesia. Tan Malaka adalah orang yang mandiri dan kemandiriannya dibuktikan dengan melakukan pengembaraan dari negeri Asia seperti China Hongkong sampai ke Rusia dan pembuangannya di Berlin, Jerman. “Dengan kondisi negara saat itu yang serba keterbatasan dalam bidang komunikasi dan transportasi tetapi Tan Malaka berhasil keluar negeri,” kata Zulhasril.

Dalam bidang pendidikan Tan Malaka dianggap berhasil dalam mengembangkan pendidikan. “Dari segi ilmu pengetahuan dan pendidikan memang nama Tan Malaka tidak terlalu banyak dikenal namun ada jasa-jasa Tan Malaka yang akan dikenang khususnya dalam dunia pendidikan. Tan Malaka merupakan salah satu pendidik yang baik. Tan Malaka lebih mementingkan memajukan dunia pendidikan dibandingkan dengan mendirikan kekuasaan. Hal ini terbukti dimana Tan Malaka pernah membangun sejenis sekolah di Semarang dan di Tanjung Merawa Sumatera Utara,” jelas Muhammad Arif yang juga membidangi pendidikan.

Asvi Warman Adam menginginkan agar nama Tan Malaka segera direhabilitasi oleh Pemerintah. “Pemerintah harus merehabilitasi nama Tan Malaka, sebenarnya Tan Malaka sudah mendapat gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang diberikan oleh Presiden Sukarno pada tahun 1963 dan tidak pernah dicabut. Tetapi sejak jaman Orde Baru, nama Tan Malaka menghilang dari buku sejarah, sehingga tidak banyak anak muda yang mengenal Tan Malaka,” kata Asvi Warman Adam.

Sementara itu, Zulfikar Kamaruddin yang merupakan keponakan Tan Malaka, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa secara fakta kerangka dari hasil penggalian makam di Desa Selopanggung, Kediri, pada 12 September 2009 adalah benar kerangka Tan Malaka. Namun secara forensik kedokteran, belum bisa dikatakan benar karena tulang kerangka termakan oleh asam tanah, sehingga belum bisa dilakukan tes DNA. “Rencananya tulang Tan Malaka akan dibawa ke Korea atau China untuk dilakukan tes DNA lebih dalam lagi,” kata Zulfikar Kamaruddin yang juga anak dari Kamaruddin Rasad adik kandung Tan Malaka. (rintho)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 5 + 4 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.