IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Seminar Politik: "Quo Vadis Partai Islam?"

IndonesiaBicara-Tangerang Selatan, (21/11/09). Partai-partai Islam rata-rata tidak memiliki kekuatan finansial yang memadai yang berimplikasi pada lemahnya kemampuan membangun citra melalui media masa dan perluasan jaringan kader. Hal ini diungkapkan tokoh partai politik Hamdan Zulva dalam Seminar Politik bertema Quo Vadis Partai Islam (kemana perginya Partai Islam-red) di Auditorium Utama Kampus UIN Syarif Hiayatullah Ciputat.

“Salah satu menurunnya partai Islam di Indonesia adalah kurangnya finansial sehingga jaringan dan kader ikut berkurang,” tambahnya. Hamdan juga menjelaskan pada Pemilu 1955 sangat jelas tujuan dari partai Islam saat itu adalah dalam rangka penentuan ideologi negara. “Saat ini ada perubahan pandangan masyarakat terhadap partai Islam. Masyarakat menganggap partai Islam sudah tidak memperjuangkan ideologi, partai Islam hanya mengangkat permasalahan peribadahan saja. Masyarakat juga menilai sudah tidak ada perbedaan antara partai Islam dengan partai Nasionalis,” jelas Politikus dari PBB ini.

Ikut hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut diantaranya adalah Anis Matta Sekjen DPP PKS, Lukman Hakim Syaifuddin Ketua DPP PPP, dan Saeful Mujani Dosen Fisip UIN.

Anis Matta mengungkapkan bahwa PKS tidak pernah melihat perbedaan angka-angka perolehan suara partai-partai Islam secara kualitatif, namun PKS membedakan secara fundamental dalam nilai strategis dan teknis. “Nilai strategis yaitu apakah kita layak untuk memimpin serta tehnik apa yang akan digunakan untuk memperoleh kemenangan,” ungkapnya.

Pasca Pemilu 2009 PKS akan menyiapkan poin-poin utama sebagai andalan untuk memperoleh kemenangan pada Pemilu berikutnya. “Untuk memenangkan Pemilu diperlukan tiga hal diantaranya leadership, database dan jaringan pendanaan yang masif”, jelas Anis Matta.

Lukman Hakim Syaifuddin menjelaskan bahwa perjuangan Partai Islam ada tiga level yaitu, level pertama Partai Islam memperjuangkan nilai-nilai universal yaitu nilai Islam yang diyakini kebenarannya oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali, misalnya tentang keadilan, HAM, akhlakul kharimah. Level kedua adalah Partai Islam memperjuangkan nilai-nilai Islam yang diyakini kebenarannya hanya oleh umat Islam, misalnya tentang peraturan yang mengatur minuman keras, perjudian dan prostitusi. Dan level terakhir adalah Partai Islam memperjuangkan nilai-nilai yang hanya diakui oleh sebagian umat Islam saja atau biasa disebut permasalahan khilafiah. “Kalau PPP akan berusaha memperjuangkan level pertama dan kedua, sedangkan level ketiga akan sulit diperjuangkan ditengah-tengah masyarakat yang majemuk,” ulasnya.

Pada kesempatan yang sama Saeful Mujani mengatakan dilihat dari tren partai Islam dalam beberapa Pemilu di Indonesia terlihat tren menurun. “Apabila partai Islam tidak merubah program untuk bisa sesuai dengan keinginan pasar maka pada Pemilu kedepan tren nya akan tetap menurun dan Partai Islam harus memperjelas warna politiknya baik dalam kebijakan politik maupun dalam perilaku politik kadernya sehingga rakyat dapat membedakan dengan jelas antara Partai Islam dengan partai lainnya,” imbuhnya. (rinto)

1 komentar untukSeminar Politik: “Quo Vadis Partai Islam?”

  • Dudy Adityawan

    Beritanya sangat bagus sekali. terima kasih karena telah memberikan informasi dari berita ini. Sukses selalu 🙂

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 15 + 10 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.