IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Seminar Nasional, Melacak Peranan Etnis Tionghoa Bangka Belitung

IndonesiaBicara-Pangkalpinang, (11/11/09). Bertempat di Edotel Pangkalpinang, berlangsung Seminar Nasional dengan tema, ”Dari Kuli ke Politisi; Melacak Pergeseran Peran Ekonomi ke Politik Etnis Tionghoa Bangka Belitung di Era Desentralisasi”. Seminar tersebut dengan dihadiri oleh Walikota Pangkalpinang, Drs H Zulkarnain Karim, MM, Rektor Universitas Bangka Belitung Prof Dr Bustami Rahman, MS , H. Hardi, SH, MH,serta sekitar 200 orang peserta yang merupakan mahasiswa dari berbagai Universitas di sekitar Kota Pangkalpinang.

Seminar yang dipandu oleh Dra Aimie Sulaiman tersebut bertujuan untuk mendorong optimalisasi etnis Tionghoa dalam bidang politik serta memberikan apresiasi kepada etnis Tionghoa untuk dapat lebih berperan dalam bidang politik, setidaknya itulah yang diharapkan oleh Iskandar Zulkarnain, SIP, MA, selaku Ketua Panitia Seminar.

Sementara itu Prof Dr Bustami Rahman, MS, dalam pemaparannya mengatakan bahwa sesungguhnya reformasi politik yang terjadi di Republik Indonesia akan berimbas kepada kebijakan publik yang memicu terbukanya peluang etnis keturunan Tionghoa dalam berpolitik. Hal tersebut, tambahnya, ditandai dengan munculnya beberapa tokoh yang berani mencoba berpartisipasi dalam partai politik, walaupun diakui olehnya bahwa sebagian besar etnis keturunan Tionghoa masih ragu untuk memasuki dunia politik yang pastinya bersinggungan dengan kekuasaan.

Kemungkinan yang mungkin terjadi akibat dampak etnis keturunan Tionghoa yang mulai memasuki dunia politik diantaranya adalah adanya rasa tidak nyaman warga pribumi yang mungkin muncul, baik yang bersifat sementara dan sifatnya menunggu pembuktian kepemimpinan dari etnis keturunan Tionghoa yang berpolitik, ataupun yang bersifat permanen serta lebih mengacu kepada persamaan agama dibandingkan dengan persamaan kultural. Kemungkinan kedua yaitu rasa “ketidaknyamanan” pribumi, yang kemudian mempengaruhi mata pilihan dalam Pilkada dan kemungkinan ketiga ialah warga pribumi yang memiliki “ketidaknyamanan” permanen akan menghimpun kekuatan untuk mempengaruhi warga pribumi yang memiliki “ketidaknyamanan” sementara. Kelompok ini akan cukup kuat untuk menghimpun tokoh agar bersatu dalam pencalonan pada Pilkada.

Sementara Drs H Zulkarnain Karim, MM, dalam pemaparannya mengatakan bahwa, pada awalnya etnis Thionghoa yang didatangkan pada masa tahun 1770, ditujukan untuk membantu menambang timah dan mereka hanya memiliki peran yang terbatas, hanya pada bidang ekonomi. Kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang mengklasifikasi masyarakat, membuat terjadinya pergeseran peran yang dimiliki warga etnis Tionghoa. Etnis Tionghoa pada perkembangnannya kemudian memiliki peran di berbagai bidang, seperti bidang agama, pendidikan, perjuangan dan bahkan pengkhianatan terhadap Republik Indonesia. Namun di saat terjadinya perubahan manajemen pemerintahan yang semula sentralisasi menjadi desentralisasi berimbas pada banyaknya warga etnis Tionghoa yang beralih menjadi politisi. Selain itu, partisipasi warga etnis Tionghoa juga sangat tinggi dalam pemilihan umum. Sehingga sangat terasa bahwa saat ini telah terjadi pergeseran peranan yang dimiliki warga etnis Tionghoa yang semula datang hanya sebagai pekerja tambang kini banyak yang beralih profesi menjadi politisi. “Saat Pemilu lalu banyak warga Tionghoa yang protes karena tidak mendapat kartu pemilih”, imbuhnya.

Prof Dr Abdullah Idi yang juga merupakan Guru Besar Sosiologi IAIN Raden Fatah Palembang, dalam makalahnya juga mengatakan bahwa, peran etnis Tionghoa di Bangka Belitung yang telah mendominasi sektor ekonomi timah, telah mengalami kemunduran sejak adanya peralihan kekuasaan menajemen timah dari Belanda ke Indonesia pada tahun 60-an, namun sejak munculnya Undang-Undang No 40 tahun 2008, tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, etnis Tionghoa semakin memiliki peluang untuk dapat berperan dalam bidang politik, namun hal tersebut bukan berarti telah terjadi pergeseran peran yang dimiliki etnis Tionghoa, melainkan justru menguatkan peran ekonomi yang telah digeluti oleh etnis Tionghoa sejak lama.

Pada akhir acara para peserta seminar yang terlaksana atas kerjasama Universitas Bangka Belitung (UBB) dan Pemkot Pangkalpinang tersebut, selain mendapatkan sertifikat, juga mendapatkan buku dengan judul Menguak Sejarah Timah Bangka-Belitung, yang ditulis oleh Dr Erwiza Erman, seorang Peneliti Pada Pusat Penelitian Sumber Daya Regional, LIPI, Jakarta. (sj)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 14 + 5 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.