IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

PT Lacquercraft Industry Indonesia PHK 160 Karyawan

Para karyawan PT Lacquercraft Industry Indonesia duduk berkumpul menunggu kepastian status PHK yang mereka terima.

IndonesiaBicara.com-Tanjung Morawa, (11/06/12). Sebanyak 160 karyawan di PHK oleh PT Lacquercraft Industry Indonesia. Pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai diberlakukan sejak Senin (11/6) oleh perusahaan yang beroperasi di Jalan Limau Mungkur No 1 Dusun V Desa Bangun Rejo Kecamatan Tanjung Morawa.

Tak ayal lagi, aksi PHK sepihak dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu ini mengundang protes dari ratusan buruh dengan menggelar demo di perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan kayu karet setengah jadi yang diekspor ke luar negeri ini.

Menurut penuturan sejumlah buruh, pemberitahuan PHK baru diketahui, Senin (11/6) pagi ketika pengumuman yang ditandatangani pimpinan Lee Hong Yau itu ditempelkan di pintu pagar perusahaan. Sesuai isi pengumuman yang ditempel itu, perusahaan yang memiliki karyawan 60 persen perempuan ini tidak berjalan secara berhasil guna dan berdaya guna.

Perusahaan yang berdiri dua tahun lalu itu kesulitan mendapat bahan baku dan kalaupun dapat bahan baku kayu karet harganya sangat mahal sehingga target produksi tidak terpenuhi mengakibatkan perusahaan tidak mampu bertahan.

Rintang Berutu (35) Ketua Serikat Buruh Merdeka Indonesia, mengatakan perusahaan yang mempekerjakan karyawan dengan dua shift itu tidak tutup tapi menonaktifkan operasional produksi. “Perusahaan menawarkan uang pisah (goodwill) sesuai kemampuan perusahaan.

“Jelas hal ini bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan,” bilangnya.

Tidak berapa lama karyawan menuntut haknya, Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Deli Serdang dipimpin Kabid Pengawasan dan Pengendalian (Wasdal), Naibaho, mendesak perusahaan agar membuat status perusahaan apakah tutup atau operasi. Karena dalam undang-undang tidak ada disebutkan kalimat non aktif. Dari status perusahaan itulah bisa ditentukan hak-hak normatif buruh yang akan diberikan perusahaan. Sementara itu, PHK sepihak itu pun terpaksa memaksa Risman (32) untuk mencari pekerjaan lain.

Pasalnya, selain sudah memiliki dua orang anak, isterinya Rahayu (30) yang juga bekerja diperusahaan itu saat ini sedang hamil 5 bulan. Sehingga biaya tanggungan semakin besar. Menurut lelaki berkumis dan berkulit gelap ini saat ditemui di kediamannya di Gang Bidan Dusun IV Desa Bangun Rejo, jika tidak ada perusahaan yang menerimanya, bekerja bangunan terpaksa dilakoninya agar bisa mengumpulkan biaya persalinan isterinya, dan biaya kebutuhan anak-anaknya. (Herda)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 8 + 9 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.