“Pondok Natal” Sebagai Simbolik Papua Damai

Perayaan Natal di Papua selalu diawali dengan pembangunan pondok-pondok oleh para pemuda gereja.Pondok-pondok tersebut dihiasi berbagai pernik mulai dari boneka Santa Claus, pohon Natal, lonceng, miniatur gereja hingga lampu hias. Pondok ini biasa dikenal dengan istilah “Pondok Natal” bagi masyarakat ditanah Papua.

Dari pondok-pondok Natal tersebut, terdengar alunan lagu-lagu rohani. Saat malam, pondok-pondok Natal semakin indah karena lampu warna-warni menyala hingga menjelang pagi hari. Pondok Natal tak hanya dibangun di pinggir jalan, depan rumah atau depan kantor pemerintah maupun swasta, tapi bisa juga dijumpai di pos TNI maupun pos jaga milik polisi.

Setiap pondok Natal pasti punya ciri khas sendiri. Pemuda gereja yang membangun pondok Natal selalu berlomba-lomba dalam kreativitas. Oleh karena itulah, Pemerintah Kota Jayapura melombakan pondok Natal disetiap tahunnya.

Tidak ada informasi jelas tentang siapa yang memulai pembangunan pondok Natal. Namun kini di hampir setiap daerah di Papua, pondok Natal seolah menjadi satu keharusan bagi pemuda gereja dalam menyambut Natal dan Tahun Baru.

Umumnya pondok Natal dibuat oleh para pemuda gereja. Namun banyak juga pondok Natal yang dibangun di kompleks perumahan warga yang melibatkan ummat Muslim. Syarifudin Galu, Imam Masjid Jabal Qubais di Santa Rosa, Kota Jayapura mengaku partisipasi warga Muslim sebagai bentuk toleransi umat beragama.

Syarifudin Galu mengatakan bahwa selama ini umat Kristiani memberikan toleransi kepada umma Muslim Papua. Salah satu contohnya adalah Muslim dapat mengumandangkan adzan saat hendak beribadah dengan menggunakan pengeras suara.

“Dalam ajaran agama sangat penting toleransi dan saling menghargai antarumat beragama. Ini yang mendorong jamaah kami ikut membantu para pemuda di sini membuat pondok Natal mereka,” ujar Syarifudin.

Menyikapi hal tersebut, budayawan LSM Lentera, Romo Ismu, SS.,M.Fil, mengatakan bahwa fenomena “Pondok Natal” merupakan implementasi dari kerukunan ummat beragama dan harmonisasi hubungan vertikal antara pemerintah dan masyarakat Nasrani Papua.

“Dengan adanya pondok Natal didepan kantor pemerintahan dan pos jaga TNI/Polisi, hal ini menunjukkan sautu semiotik hubungan yang semakin harmonis antara masyarakat asli Papua, yang mayoritas beragama Nasrani dengan instrumen-instrumen pemerintahan daerah. Keterlibatan ummat Muslim juga menunjukkan bahwa toleransi antar ummat juga telah terlihat”, ujar Romo Ismu.

Lebih lanjut, dirinya menilai bahwa synergitas pemerintah pusat dengan pemerintah daerah telah menunjukkan sinyalemen-sinyalemen positif bagi resolusi konflik ditanah Papua. Romo Ismu berharap Damai Natal tahun ini menjadi berkah tersendiri bagi penyelesaikan permasalahan Papua.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

What is 13 + 4 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.