IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Pengamat: Radikalisme di Indonesia Tak Akan Mati

kuninganPengamat terorisme dari Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Sidoarjo, Prof. Dr. Ahmad Zainuri mengemukakan radikalisme dalam bentuk teror di Indonesia tidak akan mati, kendati gembongnya telah mati.

“Aksi-aksi terorisme tidak akan berhenti, karena ada beberapa syarat yang mendukungnya,” katanya di Surabaya, Senin.

Rektor Unmuh Sidoarjo itu menyebutkan, tumbuhnya radikalisme itu dipicu oleh tiga syarat, yakni ketidakadilan, eksploitasi represif, dan fitnah.

Menurut dia, munculnya aksi-aksi terorisme di Indonesia itu karena dipicu oleh ketidakadilan ekonomi. Ia mengatakan, kondisi sosial ekonomi dan tingkat pendidikan, pelaku terorisme itu sudah sangat memprihatinkan.

Oleh sebab itu, menurut dia, orang-orang berlatar belakang sosial ekonomi seperti itu mudah dipengaruhi dan diindoktrinasi oleh orang semacam Noordin M. Top.

“Daripada hidup susah, mereka memilih mati. Apalagi, dapat gelar sebagai martir. Tentu akan membanggakan bagi mereka,” kata Zainuri.

Ia berkesimpulan, selama ketidakadilan dan kemiskinan itu tumbuh berkembang di Indonesia, maka gerakan radikalisme dalam bentuk teror akan selalu ada.

Meskipun demikian, dia menduga ada pihak-pihak yang diuntungkan dengan aksi-aksi terorisme di Indonesia selama ini. “Saya tidak bisa menyebutkan, siapa pihak yang diuntungkan itu. Akan tetapi, dalam sejarah terorisme hal itu selalu ada,” katanya.

Kemudian dia menceritakan, sepak terjang Anwar Sadat di Mesir yang mendirikan gerakan radikalisme Jemaah Islamiyah (JI) pada saat negara itu dipimpin oleh Gamal Abdul Nasser.

“Tujuan Anwar Sadat mendirikan JI ini untuk mengimbangi gerakan kiri pendukung Gamal Abdul Nasser. Ini ada pertanyaan. Mengapa Anwar Sadat mendirikan JI, padahal dia kadernya Nasser,” katanya.

Namun gerakan itu dinilai banyak menguntungkan Sadat. Terbukti pada 1970, Sadat menjadi Presiden Mesir menggantikan Nasser yang meninggal dunia akibat serangan jantung.

Kemudian pada 6 Oktober 1981, Sadat tewas ditembak oleh anggota JI dalam sebuah parade militer yang kemudian digantikan oleh wakilnya, Hosni Mubarak.

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 13 + 10 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.