IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Pansus Kembali Godok Lambang Daerah KLU

Tidak ingin berspekulasi, Pansus DPRD KLU kembali godok rancangan lambang daerah KLU

IndonesiaBicara-Lombok Utara, (22/02/11). Pengalaman saat berlangsung sosialisasi di tingkat Kecamatan se-Kabupaten Lombok Utara (KLU), maupun pengalaman studi banding untuk mendapatkan masukan terkait dengan lambang KLU yang ditetapkan berdasarkan Perbup KLU kemarin, (21/02) diungkapkan dalam Rapat Pansus Lambang Daerah DPRD Lombok Utara. Adanya berbagai persepsi dan pemahaman yang signifikan ditengah masyarakat KLU terhadap logo yang sudah ditetapkan berdasarkan Perbup KLU ini, mengharuskan Pansus untuk menghadirkan berbagai perwakilan masyarakat.

Menurut Sekretaris Pansus Ardianto, pihaknya tidak ingin berspekulasi lantaran adanya perbedaan pemahaman masyarakat yang menjadi salah satu alasan untuk dilaksanakannya kembali pembahasan logo KLU. Oleh sebab itu, kehadiran para tokoh masyarakat dari berbagai unsur di Sekretariat Dewan ini dirasakan sangat penting dalam rangka menemukan jalan terbaik untuk menetapkan atau mengubah lambang daerah KLU.

Masyarakat luas menggambarkan bahwa mayoritas KLU merupakan masyarakat Islam dan logo Masjid dimaknai seribu masjid. Demikian pula halnya dengan Gunung yang tercantum dalam logo KLU. Bahkan ada seorang ibu rumah tangga yang sempat menyampaikan bahwa warna gunung seharusnya hijau namun berbeda pada logo. Kesemua ini menurut Ardianto, merupakan aspirasi sebab sebelum ditetapkan dalam Perda KLU, logo sebagaimana yang ada dalam rancangan ini harus menjadi pembahasan kita bersama.

“Tidak jarang pula kami dari Pansus menerima ancaman yang datangnya entah dari siapa kami tidak tau dan kami menganggap itu sebuah aspirasi”, tuturnya.

Salah seorang tokoh agama Budha, Martinom, dalam pandangannya yang berkaitan dengan kalimat ”Tioq, Tata, Tunaq” menyampaikan seharusnya diganti dengan kalimat yang lebih luas seperti, “Rahayu, Mel Bao, Rezki Berkat”. Ini maknanya jauh lebih luas, jika dibandingkan dengan kata “Tioq, Tata, Tunaq”.

Sebab dalam pandangan Martinom, Rahayu diartikan, Sehat Rohani dan Jasmani, sementara Mel Bao, diartikan Tenang dan Damai. Demikian pula halnya dengan kalimat Rezki Berkat, yang artinya Rezki yang kita peroleh setiap hari penuh berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Untuk lebih singkatnya dalam penulisan kalimat sebagai pengganti “Tioq, Tata, Tunaq” cukup di ganti dengan kalimat “Rahayu”. Sedangkan berkaitan dengan warna Gunung dan lambang Masjid Kuno,sebaiknya diganti dengan Segara Anak dan Gunung Rinjani.

“Mengapa demikian, sebab selain diakui secara nasional, juga merupakan kebanggaan masyarakat NTB,” ungkap Martinom.

Berbeda dengan Ustad H Muhajir, salah seorang tokoh agama Islam. Ia menyoroti tentang adanya lambang Masjid Kuno didalam logo KLU. Padahal secara historis bahwa ummat di KLU ini terdiri dari berbagai suku dan agama. Lebih jauh dikatakan H Muhajir, bahwa masjid bukan sebagai sumber budaya, namun sebagai tempat ibadah.

“Kalau dilihat secara kasat mata bahwa Masjid Kuno Bayan kurang difungsikan secara syar’i dan Masjid Kuno Bayan lebih difungsikan sebagai tempat kegiatan adat dan budaya,” pungkasnya. (pul)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 8 + 6 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.