IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Menimbang Orang Nomor Dua Anas Urbaningrum di Partai Demokrat

Kalau bicara pemegang saham di Partai Demokrat, mutlak semua akan menyatakan kesetujuannya bahwa SBY adalah individu yang sangat berkepentingan terhadap partai ini. Keterlibatan Ketua Dewan Pembina tidak hanya pada persoalan nama, melainkan juga pada Mars Demokrat dan perangkat lain seperti lambang dan kelahiran partai yang kebetulan identik dengan hari ulang tahun beliau.

Alkisah pernah terjadi diskusi antara Vence Rumangkang dan SBY dalam hal nama, diceritakan bahwa Vence mengusulkan nama Partai Nasionalis Kebangsaan, namun karena terlalu panjang akhirnya SBY mengusulkan agar menjadi, Demokrat karena lebih mudah disebut dan diingat. Proses perjalanan waktu menghantarkan partai segitiga berbentuk “bintang mercy” tersebut menjadi partai yang mampu menghantarkan SBY menjadi orang nomor 1 di RI pada 2004 plus mengalahkan pesaingnya ketika itu adalah Megawati Soekarnoputri.

Ketua Umum Partai Demokrat sebelumnya, yakni Prof Subur Budhi Santoso dilanjutkan oleh Hadi Utomo telah menanjakkan posisi partai dalam angka-angka yang cukup signifikan dalam setiap pemilu. Sebut saja ketua yang terakhir, yang kemudian berhasil menghantarkan SBY menjadi Presiden RI untuk batas waktu yang terakhir sesuai dengan amanat UUD Republik Indonesia. Partai yang bermodal perolehan suara 20% ini telah berhasil menghantarkan SBY menjadi pemenang pemilu satu putaran.

Keberhasilan Demokrat meraih angka 20 % tersebut tentu saja bukan hanya perjuangan sang Ketua Umum. Kita tidak bisa membohongi diri bahwa mayoritas masyarakat memilih dan mencoblos Partai Demokrat di 2009 adalah dikarenakan sosok SBY yang cukup dominan. Ketokohan dan semangat  SBY–lah yang sedikit banyak mendorong masyarakat Indonesia untuk memilih Demokrat dan SBY. Kelompok investorpun cukup merasa nyaman dengan policy yang tercipta dari pemerintahan era SBY–JK  dan juga harapan yang sama pada era SBY–Boediono. Penggabungan mesin dan strategi partai yang diracik oleh Ketua Umum Hadi Utomo berikut jajarannya plus ketokohan SBY dan pencitraannya telah terlihat pada Pemilu 2009.

Bandung 23 Mei 2010 lalu adalah momentum langkah baru untuk Demokrat dalam strateginya merumuskan langkah awal menuju 2014. Paling tidak Sang Pengatur Mesin Baru telah lahir, namanya Anas Urbaningrum. Dia terpilih sebagai Ketua Umum ke-3 DPP Partai Demokrat periode 2010–2015. Demokrat boleh berbangga diri karena praktek demokrasi terimplementasi nyata dalam Kongres II lalu, tidak ada intervensi.

Pujian mengalir untuk Partai Demokrat dari masyarakat yang sepertinya selaras antara keinginan peserta kongres dengan masyarakat luar. Kepercayaan para pemilih di kongres diserahkan kepada Anas Urbaingrum untuk meneruskan langkah partai dan jejak para Ketua Umum sebelumnya. Tidak hanya masyarakat, elite-elite partai juga cukup kaget dan memberikan apresiasi bagi Partai Demokrat yang mempercayakan sosok berusia 41 tahun tersebut memimpin gerbong partai yang dapat diklaim terbesar untuk saat ini.

Di periode ketiga ini Partai Demokrat akan diuji kembali dengan kondisi bahwa sosok SBY tidak akan hadir di 2014. Tentu saja Anas dan Ketua Dewan Pembina harus berhitung bagaimana langkah dan strategi yang dapat dilakukan agar posisi partai meningkat perolehan suaranya atau minimal tidak berkurang. Antara lain adalah bagaimana masyarakat bisa menilai keberhasilan pemerintahan SBY di 2009–2014, kemudian bagaimana cara Anas mengembangkan sayap partai dan memenangkan Pemilukada di Indonesia serta kemampuan untuk  menyerap potensi SDM yang ada di tanah air yang muda dan merakyat. Paling tidak komitmen yang dikatakan Anas adalah akan mengurus partai secara maksimal dan tidak paruh waktu. Anas akan mundur dari posisi di Ketua Fraksi DPR RI dan DPR. Penggantian di jajaran fraksi pun segera akan dilakukan.

Struktur kepengurusan partai yang diisi oleh DPP Demokrat sebaiknya adalah gabungan potensi internal dan potensi eksternal. Tim 9 yang menyusun komposisi kepengurusan partai setidaknya perlu memikirkan bagaimana kepengurusan partai menjadi efektif dengan menggabungkan semua komponen dan kekuatan partai. Posisi-posisi kunci partai seperti, Sekjen dan Wakil Ketua Umum harus diisi oleh individu yang pas dan dapat memperkuat roda partai di Demokrat sehingga semua kalangan terakomodir. Barisan Andi Mallarangeng dan Marzuki Alie, serta kelompok senior tidak ketinggalan perlu diperhatikan oleh Anas dan Tim 9 dalam pertimbangan menyusun kepengurusan.

Posisi Sekjen, yakni orang nomor dua di kepartaian saat ini banyak diperbincangkan oleh para pengamat dan partai. Kemauan Edi Baskoro Yudhoyono  (Ibas) untuk berpolitik dan kemudian menjadi tim sukses Andi Mallarangeng adalah bukti nyata Ibas sedang belajar dalam berpolitik dan berorganisasi. Terlepas dari darah birunya, pada momentum kongres kemarin seolah SBY tengah membiarkan agar Ibas semakin belajar dan mempercepat proses pembelajaran politiknya.  Anggota DPR RI dengan perolehan suata terbesar di Pacitan tersebut dapat menjadi pilihan pertama untuk diplot sebagai Sekjen, mengapa? Karena Ibas akan dapat belajar banyak dari Anas dan juga menjadi telinga dan mata bagi SBY di kepengurusan Demokrat serta ketika turun ke bawah di daerah-daerah. Selain itu pertimbangan Ibas menjadi Sekjen adalah agar dapat mudah menyelaraskan agenda DPP Demokrat dengan program pemerintahan yang sedang dipegang oleh Ketua Dewan Pembina.

Kubu Marzuki berpendapat bahwa posisi Sekjen perlu diisi oleh generasi senior untuk dapat menyesuaikan akselerasi Anas yang masih muda. Wajar dengan pendapat tersebut agar jam terbang “kesenioran” bisa menjadi  pertimbangan pertimbangan ketika DPP mengambil sikap. Beberapa nama senior yang mampu tampil sebagai Sekjen sebut saja nama Andi Mallarangeng, Haryono Isman, Max Sopacua, Meilani Suharli , dll.  Khusus buat Andi Mallarangeng yang merupakan kandidat Ketua Umum selain Sekjen posisi Wakil Ketua Umum juga bisa menjadi akomodasi bagi pria Makassar ini untuk tetap berkiprah di Demokrat , toh usianya juga masih muda saat ini. Apalagi Andi memiliki kekuatan jaringan dan advertising FOX yang sudah teruji dalam berbagai kegiatan politik tanah air.

Selain Ibas, ada beberapa nama juga dari pihak keluarga yang cukup layak menempati pos orang nomor dua di kepartaian. Antara lain sebut saja Agus Hermanto yang masih kerabat SBY, Nurcahyo Anggoro yang merupakan putra Hadi Utomo.  Cukup layak kedua nama tersebut tampil mewakili pihak keluarga Cikeas. Saat ini Nurcahyo (Yoyo) juga menjabat sebagai Anggota DPR RI dan kemarin juga menjadi tim sukses pemenangan Andi Mallarangeng.

Alternatif terakhir adalah pengakomodasian dari kalangan purnawirawan militer baik dari AU, AD, AL  yang cukup dipercaya SBY untuk membantu Anas memimpin Demokrat. Keterlibatan purnawirawan dalam panggung politik hampir ada di setiap partai. Hal ini tidak lebih untuk menjaga kesatuan NKRI dan Pancasila serta pengalamannya dalam hal territorial di Indonesia akan menjadi tambahan energi bagi partai untuk urusan Pemilukada, harmonisasi dan stabilitas pusat dan daerah.

Kesibukan Partai Demokrat ke depan selain internal dan penguatan organisasi, tentu saja Demokrat harus menjaga hubungan dengan mitra koalisi yang ada seperti Partai Golkar, PAN, PKB, PKS, PPP adalah pekerjaan rumah yang tidak mudah. Baik hubungan dengan para Ketua Umum berikut dengan penguatan koalisi di legislatif dan eksekutif. Tentu saja agar panjang umur, Demokrat harus melakukan evaluasi terhadap mitra koalisi dan membuat jalan baru yang lebih manis dalam menggolkan agenda-agenda pemerintahan SBY–Boediono disamping melakukan reformasi di segala bidang. Sehingga hal ini akan membuat citra partai tetap baik di mata masyarakat dan lembaga survei.

Untuk itulah maka harmonisasi dan jajaran kepengurusan Partai Demokrat dan jajaran intinya harus dipilih dengan pertimbangan yang matang agar sosok Anas mampu tampil paling tidak mendekati citra SBY sebagai “Sang Demokrat Jilid II”. Bagi Partai Demokrat kelahiran sosok-sosok baru sangat perlu dimunculkan mengingat partai ini masih baru dan membutuhkan resource yang banyak dan mempercepat akselerasi dari partai sejenis yang ada seperti Partai Golkar yang boleh dibilang agak cukup dalam hal resource bagi kebutuhan di jajaran pemerintahan.

Kita tidak akan bisa menebak konstelasi politik yang akan terjadi di 2014. Kalau disejajarkan dengan ketua partai yang lain, Anas terbilang paling muda dibandingkan dengan ketua partai yang ada  seperti Aburizal Bakrie (Golkar), Hatta Radjasa (PAN), Muhaimin Iskandar (PKB), Suryadharma Ali (PPP), Lutfi Hasan (PKS), Megawati (PDI–P), MS Ka’ban (PBB), Bursah Zarnubi (PBR), dan Wiranto (Hanura). Semua pimpinan partai akan kembali berhitung dengan positioning Demokrat hari ini, terlebih partai-partai besar yang pernah memegang tampuk kekuasaan di Republik ini .

Mungkin saja sejarah baru demokrasi di Indonesia akan bergerak menuju lompatan baru di 2014. Entah apakah generasi muda bisa tampil di arena tersebut ataukah wajah lama yang akan menghiasi kertas suara KPU di ajang pemilihan presiden dan wapres. Rakyat yang akan menentukan hasilnya. (Akmal Budi Yulianto – Peneliti Golden Institute)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 4 + 8 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.