IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Mengajeggakan Bali Lewat Pasraman

IndonesiaBicara-Amlapura, (27/06/11). Kuatnya pengaruh dunia media khususnya media pandang dengar televisi di kalangan remaja begitu kuat mencekoki kebiaasaan remaja dewasa ini. Sajian hiburan televisi cenderung membuat mereka apatis terhadap warisan budaya lokal. Hal ini ditambah dengan rasa sayang berlebihan orang tua membiarkan remaja bersikap malas dan konsumtif. Menyikapi hal tersebut kehadiran Pasraman di tiap Desa Pakraman cukup efektif memberi pembelajaran guna merebut hati remaja peduli dan paham akan nilai warisan budaya lokal.

Hal ini terbukti dari alumnus Parsaman Santhi Kumara Desa Pakraman Pesedahan Manggis Karangasem, yang sudah berhasil menamatkan alumnus sekitar 68 orang remaja yang mampu menguasai berbagai ketrampilan lokal seperti membuat Kise, Sengkui, Klatkat Sudamala bagi remaja putra, serta membuat bebanten sayut pejatian termasuk membuat kwangen, aledan sesayut, sampian sesayut, cemper dan tangkih.

Hasil pendidikan selama 3 bulan yang dilaksanakan sebelumnya kini hendak diulang kembali dengan menyelenggarakan pembelajaran bidang spiritual keagamaan dan kearifan lokal dengan menyasar anak-anak SD.

TPL Agama Hindhu Desa Adat Pesedahan Mangku I Nengah Suratha mengatakan, pelaksanaan Pasraman selama 3 bulan berbagai pengetahuan agama, upacara dan membuat sarana upakara, disamping Dharma Gita, Budi Pekerti, Mesatwa Bali, Latihan Seni Tabuh, serta Mejejahitan dalam 24 kali pertemuan memanfaatkan waktu libur, Sabtu dan Minggu.

Untuk kalangan remaja sebelumnya juga diberikan ketrampilan seperti materi pelajarana Yoga, Patologi, Kesehatan Mental, Ilmu Budaya Dasar, Budi Pekerti, Wiracarita, Weda, Tatwa, Wariga, Hari Raya Suci, Pura, Ketrampilan, Dharma Gita, Menggambar, Nyastra dan Seni Tabuh Gong Remaja.

Untuk ketrampilan wanita diajarkan mejejahitan diberikan ketrampilan membuat Banten Praspenyeneng, Banten Pebersihan, Daksina, Sodaan Ayunan, Canang Manisan, Canang Meraka, Canangsari, Cananggenten, Lengawangi, Porosan, Peras, Banten Pejati, Prayascita, Pengambean, Tipatkelanan, Banten Pejati dan sebagainya.

Untuk ketrampilan laki-laki diajarkan Membuat Sanggah Surya, Sanggar Tawang, Sengkui, Garu, Ketimpug, Siyut, Kulkul, Tenggala, Klatkat, Sibuh, Karawista, Seet Mingmang Ambengan, Ngukup Tirta dan Kewangen.

Diakui, kondisi pembelajaran pasraman dilakukan secara terintegrasi dengan aktifitas sosial anak agar tidak jemu dengan kegiatan belajar. Pembelajaran sistim Pasraman paling tidak dapat mengarahkan perhatian remaja dapat mengenal, memahami dan membuat berbagai bentuk ketrampilan sarana upakara serta seni budaya lokal. Untuk itu pola pendidikan pasraman tersebut diharapkan dapat ditingkatkan lagi dengan pemberian muatan lokal tentang sejarah desa dan sejarah Pura-Pura yang ada di Desanya.

Bendesa Adat Pesedahan I Ketut Artana, meminta perhatian seluruh komponen masyarakat termasuk para orang tua dapat mendorong putra-putrinya aktif mengikuti pasraman yang direncanakan berlangsung saat libur sekolah tiap hari minggu dan sore hari usai pelajaran di bangku sekolah.

Kepentingan untuk melaksanakan Pasraman, dikatakannya, guna mempersiapkan generasi muda dapat memahami adat budaya, seni, dresta dan indik-indik yang ada di Desa Adat Pesedahan, agar mereka tidak kebingungan saat terjun ngayah ke Desa Adat setelah memasuki Gria Asta Asrama (saat sudah kawin).

Sesuai Instruksi Gubernur Bali bahwa selain misi utama Desa Adat untuk menjalankan dharma agama, juga diharapkan dapat mentransfer pengetahuan mengenai adat dan tradisi budaya Hindhu yang ada di Bali dalam berbagai khasanahnya.

Dalam metode sistim pembelajaran Pasraman, tidak saja diajarkan ketrampilan membuat berbagai perlengkapan sarana upakara, menguasai dharmagita juga membentuk dan membekali militansi generasi remaja Hindhu dengan budipekerti, ketahanan mental yoga serta berbagai khasanah kesenian yang menjadi warisan adiluhung masyarakat Bali.

Kabag Kesra Setda Kabupaten Karangasem Ida Bagus Ngurah didampingi Kasubbag Adat dan Agama I Made Cekeb mengatakan, agar kegiatan Pasraman dijadikan ikon dalam Desa Pakraman sehingga antara aktifitas ritual dan pemahaman sastra agama lebih berimbang, yang bisa dipupuk melalui media pasraman.

Generasi muda Hindhu sebagai obyek dan subyek pelaksanaan pasraman agar memiliki kebanggaan dan paham atas kearifan lokal miliknya sendiri serta tidak asing dengan nilai tradisi budaya Hindhu dan dresta di desanya. Pasraman sebagai warisan Hindhu di masa lalu hendaknya dapat dibangkitkan kembali sebagai pusat pembelajaran, pencerahan dan pendalaman bidang agama.

Dengan bekal pengetahuan agama generasi muda diyakini dapat memahami dan mencintai peradaban agama Hindhu miliknya, tidak terpengaruh pada budaya asing yang tidak cocok dengan kepribadian dan budaya Bali. Agama Hindhu di masa lalu kini perlu dibangkitkan untuk diaplikasikan prakteknya dalam pengamalan agama saat ini, sehingga pelaksanaan ritual agama tidak bersifat dogma, kaku dan mule keto. (*)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 12 + 5 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.