IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Menelisik Kekuatan Militer Negeri Jiran

IndonesiaBicara-Riau, 16 Juni ’09. Manuver kapal perang Malaysia di perairan Pulau Ambalat dan Nipah cukup menyadarkan kita tentang kekuatan laut kedua negara tetangga tersebut. Terlebih di tengah maraknya wacana publik soal kemampuan alutsista pertahanan nasional terkait sejumlah tragedi kecelakaan yang menimpa pesawat TNI-AU.

Memang sebuah ironi mengingat pada awal 1960-an, Indonesia sempat menjadi New Emerging Forces di Asia. Ketika itu TNI diperkuat oleh peralatan militer tercanggih buatan Uni Soviet seperti jet pemburu MIG-17 Fresco dan MIG-21 Fishbed, rudal anti pesawat SA-2 Guideline, pembom long range TU-16 Badger, kapal selam kelas Whisky, kapal fregat kelas Riga, hingga kapal penjelajah KRI Irian. Bahkan saat periode konfrontasi dengan Malaysia, armada TU-16 berani bertandang ke air space Malaysia Utara dan Australia tanpa ada intersepsi.

Tidak tinggal diam, Malaysia dan Singapura yang ketika itu tergabung dalam Persekutuan Melayu meminta payung perlindungan Inggris dan Australia. Untuk selanjutnya menempatkan armada pesawat tempurnya di Butterworth. Hingga pertengahan 1980-an, Royal Australia Air Force (RAAF) masih menempatkan skuadron penyergap Mirage IIIO yang bergantian dengan pembom F-111 di Butterworth. Ketegangan mereda seiring dibentuknya komunitas ASEAN tahun 1967. Terlebih dengan eratnya hubungan persahabatan antara rejim Lee Kwan Yew – Suharto – Mahathir Mohammad yang dipersatukan oleh ancaman laten komunis dari Utara .

Pada dekade 1980, kekuatan pertahanan Indonesia, Malaysia dan Singapura relatif seimbang. Ketiganya mengandalkan benteng udara berupa penyergap F-5E Tiger dan penyerang taktis A-4 Skyhawk. Pemerataan porsi kekuatan juga berlaku pada armada kapal perang masing-masing negara. Apalagi saat itu pasokan produk militer dari industri pertahanan AS dan Eropa Barat sangat lancar.

Kondisi perlahan berubah pasca perang dingin, dimana AS dan Eropa Barat mulai memainkan politik double standard terkait isu HAM terhadap Indonesia. Terbukti dengan buntut insiden Santa Cruz tahun 1993 yang memicu boikot peralatan perang AS dan Eropa Barat. Akibatnya TNI-AU gagal mengakuisi tambahan F-16A eks pesanan Pakistan, meski masih sempat menerima light fighter Hawk 109/209 buatan Inggris. Kondisi makin diperparah oleh badai krisis moneter 1997 yang berujung pergantian elit kekuasaan nasional.

Sebaliknya Malaysia yang sanggup bertahan dari terpaan krismon, terus mampu memperbaharui sistem persenjataannya. Tak mau bersandar pada satu pabrikan, Malaysia berani memadukan produk militer Barat dan Timur. Walhasil Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) memiliki MIG-29N Fulcrum maupun F-18 C/D Hornet sebanyak 1 skuadron serta latih lanjut/serang taktis Hawk 108/208. Saat ini TUDM juga mengakuisi multirole Su-30MKM. Penempur-penempur canggih tersebut umumnya ditempatkan di Butterwoth AFB, Kuantan AFB dan Gong Kedak AFB.

Sedang di lautan, Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) telah dilengkapi 2 fregat kelas Lekiu buatan Inggris, 6 korvet dari kelas Kasturi buatan Jerman dan kelas Laksamana buatan Italia, 4 penyapu ranjau kelas Mahameru (Lerici Class buatan Italia), 2 kapal selam kelas Scorpene, 10 Fast Attack Craft (FAC) kelas Perdana (Combattante Class) dan Jerong (Lurssen TNC 45 Class) hingga beberapa patroli laut kelas Kedah (MEKO 100 buatan Jerman). Armada TLDM ini berpangkalan di Lumut (Perak), Tanjung Gelang (Kuantan), Sandakan dan Teluk Sepanggar (Sabah). Teluk Sepanggan sekaligus menjadi pangkalan kapal selam TLDM. Sebagai pendukung adalah armada patroli udara maritim Bechcraft B200T, CN 235 MPA serta heli Anti Kapal Selam (AKS) Super Lynx.

Dalam beberapa tahun terakhir Malaysia menganggarkan sekitar 3,5 miliar dollar AS per tahun untuk pos pertahanan. Bahkan di tengah isu pemotongan belanja pertahanan besar-besaran, Malaysia masih berencana mengakuisisi Su-30MKM, jet latih lanjut Aermacchi MB-339M, transport A400M, heli EC-725 Cougar, fregat Lekiu, kapal selam kelas Scorpene serta kapal patroli kelas MEKO 100.

Langkah modernisasi radikal malah dilakoni Singapura yang merasa minoritas diantara dua ‘Melayu.’ Selama kurun 1980 – 2000, Republic Singapore Air Force (RSAF) maupun Republic Singapore Navy (RSN) terus mengakuisisi sekaligus alih teknologi militer baik ke AS, Eropa hingga Israel. Dengan anggaran militer tahunan mencapai 4,4 yang ditingkatkan hingga 11 miliar dollar AS pada tahun 2009, Singapura mampu mengakuisisi alutsista tercanggih di dunia. Sebut saja multirole fighter F-16 Blok 52, F-15 SG (varian F-15 Strike Eagle), heli serang AH-64 D Longbow , heli angkut CH-47 SD Chinook, tanker KC-135 serta pendeteksi dini AWACS E-2C Hawkeye. RSAF juga masih mengoperasikan versi upgrade F-5S Tiger dan A-4 SU Super Skyhawk. Ke depan Singapura memesan penempur futuristik F-35 Lightning dan AWACS Gulfstream G550.

Mengingat keterbatasan luas wilayah, sebagian alutsista RSAF disebar di negara lain. Semisal F-15SG dan sebagian F-16C/D ditempatkan di AS, A-4SU di Perancis serta skuadron pesawat latih dititipkan di Australia. Sedang sebagian lainnya ditempatkan pada Lanud dalam negeri diantaranya Changi AB, Tengah AB dan Paya Lebar AB.

Untuk mengamankan wilayah perairannya, RSN melengkapi diri dengan 6 fregat kelas La Fayatte (Perancis) berkemampuan Stealth, 4 kapal selam kelas Challenger (eks Sjoormen Class buatan Swedia), 6 FAC kelas Victory, 6 Landing Ship Tank (LST) angkut helikopter kelas Endurance buatan lokal serta belasan kapal patroli kelas Fearless. Armada RSN umumnya berpangkalan di Changi Naval Base dan Tuas Naval Base. Sebagai pendukung patroli udara maritim terdapat Fokker 50 MPA dan helikopter SH-60B SeaHawk.

Menilik jenis alutsista kedua negeri Jiran tadi, kentara adanya upaya pencapaian penguasaan udara dan lautan (air and maritime power supremacy).  Buktinya kebijakan Malaysia dan Singapura membeli multirole generasi keempat seperti MIG-29 Fulcrum, F-18 Hornet, F-16 Fighting Falcon, Su-30 Flanker C, dan F-15 Eagle. Sementara di lautan terjadi persaingan ketat terkait akuisisi fregat, korvet maupun kapal selam.

Di udara kompetisi diwakili pembelian 18 Su-30MKM tahun 2003 oleh Malaysia disusul pemesanan puluhan F-15SG oleh Singapura secara bertahap pada tahun 2005. Dengan radius serang mencapai 3.000 Km dengan kecepatan maksimum 2,0 Mach, Flanker C pantas dijuluki penyerang jarak jauh. Apalagi dengan perangkat radar Phazotron N011 BARS PESA yang mampu mengendus 15 sasaran secara simultan dalam jarak 120 Km. Su-30MKM juga dilengkapi rudal udara ke udara jarak sedang dan menengah, rudal anti radar hingga bom berpemandu laser. 

Sebagai rival abadi Su-30 MK, F-15 Strike Eagle juga mampu menyerang sejauh 2.000 Km dengan kecepatan 2,5 Mach. F-15SG dilengkapi pula dengan radar AN/APG-70 yang mampu mengendus target sejauh 220 Km hingga mampu memandu penembakan rudal jarak menengah AIM-120 AMRAAM sejauh 90 Km. Selain itu pesawat ini juga telah dilengkapi electronic pod LANTIRN yang mampu mendukung serangan bom pemandu laser GBU-10/12 Paveway II, GBU-38 JDAM hingga AGM-154 JSOW.

Selain melengkapi diri dengan penyerang jarak jauh seharga 40-an juta dollar AS, RSAF juga memiliki 4 pesawat peringatan dini E-2C Hawkeye. Adalah radar AN/APS 145 yang menjadi andalan Hawkeye RSAF untuk mendeteksi 2.000 target plus mengontrol pergerakan 40 target secara simultan dalam radius 550 Km.

Di lautan, persaingan diwakili oleh pembelian fregat dan kapal selam. Adalah fregat La Fayatte berbobot mati 3.200 ton yang diincar Singapura. Pemburu laut buatan Perancis yang sudah mengadopsi teknologi Stealth ini dilengkapi sistem kendali radar Thales Herakles yang mengontrol penembakan misil anti pesawat/rudal MBDA Aster 15/30 serta misil anti kapal Harpoon. Di luar itu, terdapat pula heli AKS SH-60B SeaHawk. Buat perang bawah air, Singapura memilih kapal selam kelas Vastergotland bekas AL Swedia untuk menggantikan kapal selam kelas Challenger.

Adapun Malaysia memilih menambah fregat kelas Lekiu yang dimodernisasi setara dengan teknologi terbaru destroyer tipe 45 milik AL Inggris. Dan untuk kapal selam, Kuala Lumpur berencana menambah kapal selam kelas Agosta bekas AL Perancis. 

Lantas bagaimana dengan Indonesia ? Walau memiliki wilayah seluas benua Eropa , namun kekuatan udara dan laut TNI terbilang minim. Modernisasi alutsista pada dekade 2000-an baru sebatas upgrade sistem avionik berikut struktur pesawat F-5 E Tiger (Proyek MACAN) serta F-16A/B (Proyek Falcon Up). Adapun pengadaan Su-30MKI hanya dalam jumlah kecil tanpa disertai persenjataan lengkap. Di lautan, TNI-AL bisa sedikit bernafas lega dengan kehadiran 4 korvet SIGMA buatan Belanda. Untuk air surveillance, armada Boeing 737-200 skuadron udara 5 TNI-AU makin diperkuat 2 pesawat CN-235 MPA senilai 32 juta dollar AS.

Di tengah peningkatan eskalasi kekuaran militer negeri Jiran plus banyaknya musibah kecelakaan yang menimpa armada TNI-AU, ada baiknya pemerintah segera memperhatikan perimbangan anggaran pertahanan nasional. Termasuk anggaran pembelian dan pemeliharaan alutsista TNI. (dito)

2 comments untukMenelisik Kekuatan Militer Negeri Jiran

  • flanker

    negara yg i tak mahu jadi pemimpin

  • wah bahaya tuh jika negara dalam keadaan perang…….
    Tapi ga apa-apa lah…!! wong kita lagi pada adem ayem….!!
    Nanti aja belinya…., kalau ALUTSISTA singapura dan malaysia sudah pada usang.
    kita beli yang baru dan canggih….!!
    syaratnya…. semua koruptor, makelar kasus, tikus kantor dan sebangsanya dihukum gantung di monas…!!

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 12 + 14 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.