IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

KOMPAK Peringati 10 Tahun Kasus Munir

IndonesiaBicara.com-CIPUTAT (06/09/14), Kematian tokoh pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) Munir terus diperingati. Tahun ini memasuki 10 tahun kematiannya dan diperingati oleh KOMPAK (Komite Mahasiswa dan Pemuda Anti Kekerasan) disekretariatnya di Pisangan, Ciputat Timur Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Dalam peringatan tersebut juga dilakukan Pemutaran Film Munir “Kiri Hijau Kanan Merah” dan Diskusi “10 tahun Masa Depan Kasus Munir: Tagih janji SBY dan Berani gak Mas Joko?”,

Film dokumenter “Kiri Hijau, Kanan Merah”, yang disutradarai oleh Dandhy Laksono, mengungkap sisi kemanusiaan Munir, dimulai dari Munir kecil yang tinggal dan tumbuh di Kota Batu, Malang, Jawa Timur dan memulai pendidikan SD Muhammadiyah Batu, melanjutkan ke SMPN 1 Batu, serta SMAN 1 Batu.

Munir semasa sekolah bukanlah anak yang menonjol dalam hal prestasi akademisnya, justru pelajaran Bahasa Inggris lemah. Sewaktu SMP masuk urutan 180 dari 200 siswa. Kelebihannya adalah Munir sangat menonjol jika ada diskusi-diskusi disekolah.

“Munir setelah lulus SMA melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya kemudian menikahi Suciwati dan bekerja di salahsatu Lembaga Bantuan Hukum diĀ  Surabaya. Munir juga senang mendegarkan lagu-lagu yang bernuansa kritik sosial politik. Dirinya mengidolakan penyanyi Iwan Fals dan mengoleksi album-album yang dipenuhi dengan kritik sosial’, cerita film dokumenter itu

Menurut Ranti dari LBH Surabaya menerangkan bahwa Munir merupakan aktivis dan pelaku reformasi 1998, dari kasus munir kita bisa melihat betapa lemahnya respon pemerintah terhadap pelanggaran serta kekerasan terhadap HAM.

“Sejak reformasi 1998 sampai sekarang, negara masih sibuk dalam penguatan lembaga negara bukan rakyatnya. Padahal jauh sebelum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sudah lebih dulu dibentuk, namun sekarang Komnas HAM tidak memiliki prestasi yang signifikan dalam membongkar. kasus-kasus HAM”, katanya.

Dikesempatan yang sama aktivis pemerhati HAM Jakarta, Asvin mengungkapkan dalang dari pembunuhan Munir sampai hari ini masih menghirup udara bebas, yang entah kapan kasus pembunuhan ini bisa diselesaikan secara hukum.

“Munir merupakan sosok yang membela siapa saja tanpa melihat latar belakang agama maupun suku, tidak banyak orang seperti Munir, yang berani membela walaupun resikonya cukup berat”, paparnya

Diakhir Diskusi Mahasiswa KOMPAK menuntut pemerintah bisa mengusut tuntas kasus Munir.

“KOMPAK meminta agar kasus Munir dituntaskan dan seluruh kasus pelanggaran HAM di Indonesia dengan menegakkan HAM serta demokrasi yang berpihak kepada rakyat”, ujar salahsatu Aktivis KOMPAK. (Rif/Rin)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 2 + 4 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.