IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Kenaikan BBM dan TDL Memicu Naiknya Harga Kebutuhan Pokok

IndonesiaBicara.com-Amlapura, (06/03/2012). Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang diberlakukan mulai bulan April ini akan berdampak buruk bagi masyarakat. Kenaikan harga BBM dan TDL tidak dibarengi dengan kenaikan pendapatan masyarakat. Artinya, kenaikan harga BBM dan TDL berbanding terbalik dangan ekonomi masyarakat secara umum.

Setidaknya hal itu tergambarkan dari pendapat sejumlah mahasiswa yang ditemui , Minggu (04/03). Seorang mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mahasaraswati Denpasar, Erno, mengatakan kenaikan harga BBM dan kenaikan TDL akan berdampak luas. Kenaikan BBM akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pokok tidak dibarengi dengan kenaikan pendapatan masyarakat.

“Ibaratnya perbandingan kenaikan BBM dan TDL dengan pendapatan masyarakat 10 : 1”, katanya.

Erno menambahkan, kenaikan harga BBM dengan kenaikan TDL dampaknya akan lebih dirasakan pada kenaikan BBM. Soalnya, dampak kenaikan harga BBM pernah dirasakan masyarakat. Kondisi itu pernah dialami sebelumnya, bagaimana masyarakat dihadapkan pada situasi sulit, dimana pendapatan tidak seberapa, namun kebutuhan pokok melambung tinggi. Dia juga mengharapkan kenaikan BBM dengan TDL tidak bersamaan. Jika bersamaan, situasi akan menjadi semakin sulit.

“Kenaikan BBM saja sudah kelimpungan, apalagi nanti bersamaan dengan TDL. Pasti banyak masyarakat yang tidak siap dengan itu, termasuk saya”, katanya.

Hal serupa juga dikatakan mahasiswa lainnya Didik Arianto yang juga mahasiswa FKIP Unmas Denpasar. Dia berpendapat sedikit memahami mengapa harus ada kenaikan BBM dan TDL. Namun solusi untuk masyarakat luas juga harus dipikirkan. Jangan sampai kebijakan pemerintah semakin membuat masyarakat kelimpungan ditengah ekonomi warga yang mayoritas menengah ke bawah.

Pemerintah mesti mempertimbangkan dampak kedua kenaikan komoditas tersebut terhadap masyarakat khususnya kalangan bawah. Pemerintah harus mengintensifkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, sehingga tidak mengalami kejutan yang tiba-tiba. Harapannya masyarakat akan lebih siap, sekalipun memang akan terasa memberatkan. Beban masyarakat semakin berat jika program kebijakan BBM bersubsidi sekaligus kenaikan TDL.

Dibandingkan dengan kebijakan membatasi penggunaan BBM bersubsidi Didik Arianto menambahkan, kebijakan menaikan BBM bersubsidi yang menjadi pilihan bagi pemerintah saat ini lebih rasional dibandingkan rencana sebelumnya. Untuk menekan dampak negatifnya, dia berpendapat rencana pemerintah memberikan kompensasi sebagai jaminan perlindungan sosial bagi masyarakat kurang mampu harus direalisasikan secara tepat untuk meminimalisasi dampak negatif akibat kenaikan harga BBM bersubsidi.

Mahasiswa lainnya Ni Luh Putu Widnyani dari Fakultas Ekonomi Unmas Denpasar berpendapat, kenaikan harga BBM dan TDL, jangan sampai menghapus subsidi bagi rakyat kecil. Beban hidup rakyat belakangan ini kian berat. Namun disadari bahwa kenaikan harga minyak sudah tidak bisa dikendalikan.

Harga BBM sebagai salah satu komponen produksi akan mempengaruhi harga barang-barang lain. Jadi jika harga BBM naik, maka harga barang lain segera melaju. Itu akan memukul daya beli konsumen.

“Saya sedikit mengerti mengapa harga BBM dan TDL naik. Secara umum saya mendukung kenaikan harga BBM yang rasional dan proporsional. Namun saya menolak kenaikan harga BBM apabila diterapkan bersamaan dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL)”, katanya. (*)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 6 + 8 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.