IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Aksi Mahasiswa di Kantor Gubernur NTB Berujung Bentrok Dengan Aparat Kepolisian

IndonesiaBicara–Mataram, (15/07/11). Aksi Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Peduli Pulau Sumbawa (GMP2S) di depan Kantor Gubernur NTB berakhir dengan bentrokan dengan aparat kepolisian.

Puluhan mahasiswa yang dikoordinatori Ade Isnaini melakukan aksi didepan kantor Gubernur NTB dengan tujuan mendesak Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi secepatnya memberi rekomendasi terkait pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa (PPS).

“Kami meminta tidak ada alasan apapun Gubernur NTB untuk secepatnya memberi rekomendasi terkait pembentukan Propinsi Pulau Sumbawa,” dalam orasinya.

Bentrokan terjadi ketika mahasiswa ingin melakukan orasinya di depan gerbang Kantor Gubernur NTB dengan tetap ngotot menerobos barisan aparat kepolisian telah berdiri ketat di sepanjang gerbang Gubernur NTB, aksi dorong tidak bisa dihindari antara polisi dengan puluhan mahasiswa yang tergabung dari kabupaten Sumbawa Barat, Sumbawa Besar, Dompu, Kota Bima, dan Kabupaten Bima.

Situasi semakin memanas ketika salah seorang pengunjuk rasa melempar kardus yang berisi air mineral ke arah polisi dari atas mobil bak terbuka yang digunakan membawa alat-alat pengeras suara aksi, lemparan tersebut memicu pihak kepolisian yang dilengkapi tameng dan pentungan terpaksa mengambil tindakan tegas.

Aksi saling kejar aparat dengan mahasiswa dan bentrokan tidak bisa dihindari, pihak kepolisian mengamankan sedikitnya 6 orang pengunjuk rasa kerena dinilai melawan aparat.

Kapolres Mataram AKBP I Nyoman Sukena yang pada saat kejadian berada dilokasi mengatakan, pembubaran aksi puluhan mahasiswa tersebut lantaran mereka tidak berunjukrasa dengan tertib dan disiplin.

“Mahasiswa melempar aparat dengan kardus air mineral, itu ‘kan tidak etis, dan demo itu tidak boleh menganggu,” ujarnya.

Sementara Ketua Kalkus Muda Pulau Sumbawa Yunus Asfa menilai, polisi terlalu agresif menganggapi aksi mahasiswa.

“Kami sayangkan sikap agresif polisi, padahal mahasiswa hanya ingin berorasi di depan gerbang Kantor Gubernur saja,” jelasnya.

Dikatakan, gerakan ini tidak akan berhenti sampai disini, pihaknya akan tetap melakukan aksi hingga Gubernur mengeluarkan rekomendasi pembentukan PPS.

“Kami tidak akan berhenti memperjuangakan PPS, kami akan tetap melakukan aksi yang sama,” ucapnya. (Ary)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 8 + 11 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.