IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Indonesia Tidak Bisa Selamanya Bergantung Pada Impor Beras

IndonesiaBicara-Surabaya, (07/10/11). Kebijakan impor beras perlu dilakukan selama tujuannya untuk cadangan atau untuk mengamankan stok beras nasional. Namun jangan sampai impor mengakibatkan jatuhnya harga beras di tingkat petani. Jika kebijakan impor mengakibatkan jatuhnya harga beras di tingkat petani, dikhawatirkan banyak petani yang enggan menanam padi, sehingga akan berpengaruh terhadap produksi beras nasional.  Demikian diungkapkan Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga, Rudi Purwono, Kamis (06/09).

Indonesia juga tidak bisa selamanya mengandalkan impor untuk cadangan beras nasional. Ketergantungan Indonesia pada negara pengekspor beras dapat dimanfaatkan olah negara pengekspor dengan menaikan harga sesuka mereka, seperti halnya yang dilakukan Thailand belum lama ini.

Pemerintah selama ini selalu menyalahkan alam, nyatanya Thailand dan Vietnam yang letak geografisnya tidak jauh berbeda dari Indonesia juga mengalami hal yang sama, namun masih bisa melakukan ekspor beras.

Instansi terkait perlu memikirkan upaya-upaya untuk meningkatkan produksi beras, mengingat lahan pertanian di Indonesia sangat luas.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi beras antara lain, penyediaan bibit yang tahan terhadap kemarau atau terhadap curah hujan yang tinggi, perbaikan infrastruktur pertanian, seperti irigasi dan waduk-waduk yang dapat mengelola air, sehingga pertanian Indonesia tidak bergantung pada alam, pencegahan alih fungsi lahan pertanian, pemberian insentif kepada petani seperti pupuk, pembasmi hama, sampai kredit pertanian, serta memutus rantai perdagangan sehingga tidak ada disparitas harga yang tinggi antara harga beras di tingkat petani dengan harga beras di pasaran.

Jika upaya peningkatan produksi beras nasional tidak segera dilakukan, maka Indonesia selamanya akan tergantung pada impor. (AK)

Demikian diungkapkan Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga, Dr. Rudi Purwono Kamis (6/9/2011).

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Berapa jumlah 15 + 14 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.