IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Harga Gas Naik, Yang Untung Siapa ?

oleh : Amizar Isma (Aktivis muda NU dan Sekretaris Lembaga Visi Indonesia)

Dari sisi politis, jelas ini tidak etis. Apalagi ditambah dengan tahun 2014 adalah tahun politik atau festival politik 2014, jelas ini akan menjadi senjata baru bagi partai penguasa untuk mencetak hatrick dalam keikutsertaanya di pemilu yang ketiga. Jurus lama tampaknya mulai terendus, Isu-isu kenaikan BBM (read: bahan bakar minyak) dengan pentolan bensin jenis premium pada pemilu 2009 sebagai jurus lamanya, sudah usang dan sudah tidak “ngeri” lagi. Isu kenaikan BBM ketika itu menjadi jurus yang kuat lantaran didukung dengan alasan kuat pula. Harga Minyak dunia yang naik tinggi menjadi alasan utama kenaikan BBM dan GAS elpiji di Indonesia. Ada tiga hal yang perlu dijelaskan.

Pertama, kenaikan Gas LPG 12 Kg dari angka Rp 80.000,- menjadi angka Rp 120.000,- / Rp 130.000,-. Dari sisi sosial masyarakat, jelas ini memberatkan penguasa ekonomi mikro menengah. Contoh saja para penjual Bakso, Mie Ayam, dan Pengusaha Produksi Tahu di sekitar Petukangan Selatan, yang harus beralih dari tabung LPG 12 Kg menjadi tabung LPG 3 kg. Kenaikan ini jelas meresahkan para pengusaha mikro yang menginginkan keuntungan lebih besar dari harga produksinya. Peralihan dari tabung LPG 12 Kg menjadi tabung LPG 3 Kg merupakan salah satu solusi dari pencarian keuntungan tersebut.

Kedua, peralihan tabung LPG dari pengusaha mikro menengah tersebut jelas berdampak kepada masyarakat non pengusaha (read : pengguna tabung LPG 3 Kg). Peralihan tersebut jelas membuat masyarrakat non pengusaha apalagi dengan keadaan ekonomi menengah ke bawah pasti akan gigit jari. Sebab kenapa, jika para pengusah mikro menengah tersebut semua beralih, logikanya jika sehari membutuhkan 1 tabung LPG 12 Kg dan beralih menjadi 3 Kg, di butuhkan 4 tabung dalam sehari untuk menjalankan usaha mikronya. Masyarakat non pengusaha pun harus rela berebut dengan pengusaha mikro yang jelas memiliki uang lebih darinya. Keadaan ini akan menimbulkan kelangkaan gas LPG 3 Kg.

Ketiga, dengan adanya kelangkaan gas 3 Kg di masyarakat dan permintaan begitu besar, mau tidak mau gas LPG 3 Kg harganya harus dinaikan sesuai dengan hukum dasar ekonomi. Peristiwa ini seirama ketika kenaikan BBM pra pemilu 2009. Partai Penguasa ketika itu menaikan harga BBM, dan kemudian diturunkan kembali sampai tiga kali. Menurut partai tersebut merupakan prestasi dalam membangun negeri, malah menjadi iklan kampanye politiknya. Ini yang kemudian ditakutkan dengan kenaikan gas LPG 12 Kg. Meskipun pemerintah dalam hal ini partai penguasa tidak dapat memberikan intervensi terhadap harga gas LPG 12 Kg, tapi setidaknya coba lihat aktor dibalik perusahaan (read : pertamina) tersebut. Kemungkinan semua itu bisa terjadi. Dan masyarakat diharapkan bisa membaca isu-isu yang sudah terpola sedemikian rupa.

Hal inilah yang membuat kita semakin jenuh dengan pemerintah saat ini. Menciptakan masalah tanpa ada solusi yang tepat untuk masyarakat banyak. (**)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Berapa jumlah 10 + 8 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.