IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

FKMU Gelar Diskusi Harkitnas

IndonesiaBicara.com-Tangerang Selatan, (22/05/12). Untuk melakukan restorasi yang menyeluruh maka mahasiswa sebagai agen perubahan tidak hanya memiliki keinginan tapi juga harus punya tingkat keilmuan. Hal ini dijelaskan Direktur Lembaga Studi Kebijakan Publik (LPKP)  Ichsanuddin Noorsy, saat menjadi pembicara dalam diskusi publik yang digelar Forum Komunikasi Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah (FKMU) Ciputat, Senin (21/05).

Ichsanuddin menerangkan jika restorasi dilakukan tanpa adanya keilmuan akan sama halnya dengan era reformasi saat ini, dimana bangsa ini sudah terpuruk sangat dalam. “Di berbagai sendi kehidupan khususnya mengenai perekonomian dan ideologi, kita sudah sangat liberal. Ini merupakan bentuk penjajahan baru yang banyak tidak disadari oleh kita, termasuk pemerintahan saat ini,” katanya.

Semua kepemilikan perusahaan nasional, lanjut Ichsanuddin,  sudah berbau asing bahkan sebagian besar perekonomian kita sudah dikuasai asing. “Bahkan saat ini negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia ramai-ramai menguasai perekonomian dan industri kita. Jadi jangan harap kita bisa mandiri jika semuanya tergantung dengan asing”, ungkapnya.

Sementara itu Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Zaki Mubarak yang juga menjadi pembicara dalam diskusi yang digelar di Student Center ini mengatakan bahwa dunia pergerakan Indonesia saat ini cenderung menurun jika dibandingkan dengan awal pergerakan mahasiswa pada tahun 1905 atau 1908.

“Pada era 1908  walaupun masih sangat muda namun mereka sudah mampu dan matang dalam melakukan pergerakan bahkan menjadi pemimpin perjuangan. Sedangkan saat ini pergerakan mahasiswa terkesan lambat karena terkekang oleh  paradigma dimana mahasiswa tugasnya hanya belajar dan tidak masuk dalam kegiatan praktis. Kegiatan kampus pun banyak yang pragmatis bahkan banyak dibiayai oleh kelompok atau orang yang selama ini menjadi musuh aktivis pergerakan”, kata Zaki.

Menurut Zaki perlu adanya saringan dari mahasiswa sendiri mana yang layak dan tidak dalam mendukung suatu pergerakan.

Saiful Munir yang juga aktivis dari FKMU dalam paparannya menjelaskan  Pasca Reformasi banyak penumpang gelap yang menikmati dan ini tidak disadari oleh para mahasiswa. Akhirnya penumpang gelap tersebut kini menguasai pangung kekuasaan, khususnya Partai Politik yang ada saat ini.

“Keadaan negara semakin terpuruk, termasuk kebebasan berekspresi mahasiswa. Di UIN sendiri mahasiswa kurang bebas bergerak karena banyak peraturan dari rektorat terhadap kegiatan kemahasiswaan”, tandasnya.

Diskusi ini diselenggarakan oleh FKMU dalam rangka momen Hari Kebangkitan Nasional, sedikitnya 200 orang mahasiswa hadir mengikuti diskusi yang bertema Restorasi Cita-cita Perjuangan Nasional Dalam Mewujudkan Seutuhnya Kemerdekaan Rakyat Indonesia. (Rintho)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 2 + 8 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.