IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Diskusi: Revitalisme Cinta Tanah Air Untuk Mencegah Radikalisme, Terorisme dan NII

KAMMI NTB dan LOGIS NTB menyelenggaran diskusi bertema “Revitalisme Cinta Tanah Air Untuk Mencegah Radikalisme, Terorisme dan NII”, di Aula PGRI NTB.

IndonesiaBicara.com–Mataram, (04/06/11). Negeri ini telah dibajak oleh radikalisme perilaku radikal tumbuh subur di tengah masyarakat dan terus berkembang. Potensi sikap radikal ini bahkan telah tumbuh dan berkembang di dunia kampus dimana kampus yang akan melahirkan kaum intelektual, juga bisa melahirkan sosok teroris serta pemahaman radikalisme hingga berkembang sedemikian rupa.

Berangkat dari itulah dan semangat dalam peringatan hari lahirnya Pancasia, pada 4 Juni 2011, KAMMI NTB dan LOGIS NTB melaksanakan diskusi bertema “ Revitalisme Cinta Tanah Air Untuk Mencegah Radikalisme, Terorisme dan NII”.

Kegiatan ini sendiri bertempat di Aula PGRI NTB dengan peserta, dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, tokoh masyarakat dan LSM.

Pada kesempatan tersebut hadir sebagai pembicara, Dr Syafrudin (Akademisi Unram), Dr Mutawalli (Akademisi IAIN), AKBP Drs M Yasin (Polda NTB) dan Jamaluddin Kahairi (DPW Muhammadiyah).

Dalam kesempatan tersebut, Ketua KAMMI NTB menyampaikan, bahwa radikalisme telah merusak tatanan masyarakat dan tatanan kebangsaan kita. KAMMI NTB juga sama sekali tidak setuju jika perubahan itu harus dilakukan dengan cara kekerasan atau melanggar norma dan aturan yang ada.

Sedangan pada kesempatan yang sama, Ketua LOGIS NTB,Ustadz Husnul Haotori, menyampaikan bahwa keragaman ini adalah rahmat, dan tidak pernah kita akan sama atau seragam semuanya.

“Jangan sampai ada orang atau golongan yang tidak bertanggung jawab memaksakan kehendaknya,” ucapnya di saat menyampaikan sambutan dalam seminar tersebut.

Sementara itu dalam seminar yang diselenggarakan oleh KAMMI NTB dengan LOGIS NTB, menyimpulkan bahwa antara lain dari penyebab radikalisme yang ada di Indonesia saat ini adalah ada beberapa sebab yang memunculkan radikalisme dalam bidang agama.

Antara lain pemahaman yang keliru atau sempit tentang ajaran agama yang dianutnya. Selanjutnya ketidakadilan sosial dan kemiskinan, dendam politik dengan menjadikan ajaran agama sebagai satu motivasi.

Revitalisasi “Semangat Cinta Tanah Air“ mungkin bisa menjadi bahan untuk tindak ulang, misalnya dengan adanya pendidikan tersebut kita dapat lebih memperhatikan pola pikir generasi muda kita yang sekarang ini mungkin sudah berbeda dan menyimpang jauh.

Setiap anggota masyarakat sangat mendambakan generasi mudanya dipersiapkan untuk menjadi warganegara yang baik dan dapat berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat dan negaranya. Keinginan tersebut lebih tepat disebut sebagai perhatian yang terus tumbuh, terutama dalam masyarakat demokratis.

Banyak sekali bukti yang menunjukkan bahwa tak satu pun negara,termasuk Indonesia, telah mencapai tingkat pemahaman dan penerimaan terhadap hak-hak dan tanggung jawab di antara keseluruhan warganegara untuk menyokong kehidupan demokrasi konstitusional. (Ary)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 8 + 12 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.