IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Diskusi Lorong Merah: 'Potret Nasionalisme Dalam Tetralogi Buru'

Indonesiabicara.com-Tangerang Selatan, (13/04/10). Hasil karya penulis terkenal Pramoedya Ananta Toer, Tetralogi Buru didiskusikan oleh mahasiswa FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Selasa siang (13/04). Diskusi santai yang digelar oleh Komunitas Matabudaya di pelataran gedung FISIP UIN ini cukup menarik, dengan menghadirkan dua pembicara yaitu Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Idris Thaha dan Direktur Eksekutif Institut Survey Demografi Politik (ISDP), Teuku Bahari Aden.

Teuku Bahari Aden menggambarkan saat itu Pramoedya Ananta Toer atau yang biasa dipanggil Pram, sebagai seseorang yang berani mendobrak kekakuan berfikir yang dibuat oleh pemerintah kepada masyarakatnya.

“Dalam Tetralogi Buru, Pram menggambarkan dimana budaya masyarakat digiring dari budaya petani menuju budaya masyarakat pantai, masyarakat pantai dianggap lebih terbuka pada budaya-budaya baru dan selalu berbicara apa adanya. Sedangkan masyarakat petani dianggap oleh Pram sebagai budaya yang mempertahankan tradisi dan bersifat tertutup serta penuh basa-basi. Pram menganggap bangsa Indonesia sudah melekat budaya petani,” papar Teuku Bahari Aden atau yang akrab disapa Indra ini.

Budaya tani, lanjut Indra, dipaksa pada tahun 1965 dengan bantuan kekuatan senjata (Angkatan Darat) serta pendominasian budaya Jawa yang mengagungkan kebesaran Pemimpin Soeharto. “Budaya tani secara sistematik dikukuhkan menjadi satu budaya yang harus diterima oleh rakyat dengan paksaan. Pada waktu itu dibuatlah peralihan cara berfikir bahwa siapapun yang mengkritik, menentang secara lisan maupun tulisan adalah musuh bersama atau dengan kata lain orang yang tidak ber Tuhan atau Atheis (Komunis),” kata Indra.

Pembicara lain, dalam diskusi yang mengangkat tema Potret Nasionalisme Dalam Tetralogi Buru, Idris Thaha, mengutarakan bahwa Tetralogi Buru merupakan karya yang menembus batas. Dalam karya ini Pram mengangkat multi budaya, multi agama, multi suku.

“Hasil karya Pramoedya Ananta Toer bukan sekedar buku bacaan untuk menyenangkan para pembacanya saja, tetapi kita diajak terlibat dalam cerita sejak awal. Pram juga menggugah kesadaran perlawanan serta kemandirian terhadap penindasan, ketidakadilan, kolonialisme dan feodalisme,” ucap Idris.

Pram mengajak kita untuk tidak takut dalam kesendirian ketika melakukan sebuah perlawanan. “Tidak boleh bergantung pada bangsa manapun, sehingga Indonesia tidak menjadi pesuruh bangsa lain,” kata Idris.

Menurut pengagasnya, Okky Tirto, diskusi ini adalah untuk mengenang empat tahun wafatnya sang maestro Pramoedya Ananta Toer. “Komunitas Matabudaya sering mengadakan diskusi santai seperti ini, dan untuk kali ini kami membahas tentang karya Pram, Tetralogi Buru untuk mengingat empat tahun meninggalnya Pram,” jelas Okky.

Novel roman Tetralogi Buru, karya Pramoedya Ananta Toer, yang dihasilkan saat penahananya di Pulau Buru adalah:
1. Bumi Manusia, yang menceritakan tentang kesadaran perlawanan terhadap kolonialisme dengan cara modern.
2. Anak Semua Bangsa, pendalaman terhadap budaya-budaya yang ada disekelilingnya dan melihat perkembangan dunia berdasarkan analisa.
3. Jejak Langkah, terbentuknya beberapa organisasi baru yang lebih tertib dan rapi.
4. Rumah Kaca, tetap berprinsip melakukan perlawanan sampai akhir terhadap kolonialisme Belanda. (rintho).

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 15 + 4 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.