IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Buruh Petrokimia Tuntut Persamaan Hak

IndonesiaBicara.com-Jakarta(04/02/12). Buruh Petrokimia Gresik yang tergabung dalam Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) Gresik melakukan aksi mogok kerja sejak 29 Februari–2 Maret 2012. Sedikitnya seribu pekerja outsourcing mengikuti aksi itu. Sedangkan puluhan perwakilan dari mereka meluncur ke Jakarta untuk melakukan aksi dan menemui pihak Kementerian BUMN serta Kemenakertrans untuk minta bantuan agar masalah dapat dituntaskan.

Sebelum melaporkan masalah yang dihadapi kepada pihak Kemenakertrans, Abu dan puluhan kawannya mendatangi Kementerian BUMN. Tapi pihak Kementerian BUMN tidak dapat berbuat banyak untuk membantu para buruh outsourcing di Petrokimia. Maka Agus dan puluhan kawannya bergegas menuju Kemenakertrans Jakarta.

Usai diterima aduannya oleh pihak Kemenakertrans dengan menggunakan dua buah bus berukuran besar mereka langsung kembali ke Gresik. Pihak Kemenakertrans berjanji akan segera menerjunkan tim untuk memantau pelaksanaan sistem ketenagakerjaan yang ada di PT Petrokimia Gresik. Menurut pengakuan pihak pekerja, tim itu rencananya akan tiba di lokasi besok Senin.

Berdasarkan pada UU No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan para pekerja outsourcing tidak boleh melakukan pekerjaan yang sifatnya pokok atau bersinggungan langsung dengan produksi. Menurut pandangan para buruh pekerjaan yang mereka lakukan selama ini di Petrokimia adalah pekerjaan pokok.

Misalnya Abu Salman, dia bekerja di Petrokimia sejak tahun 1997. Buruh outsourcing itu bekerja di bagian operator alat berat. Pada bagian itu jumlah buruh outsourcing ada 21 orang sedangkan buruh tetap hanya 4 orang. Pekerjaan yang dilakukan Abu sama seperti para buruh yang berstatus tetap yaitu memperbaiki setiap kerusakan yang ada di pabrik.

Bahkan ada sistem yang dinamakan stand by call out yaitu mekanisme yang mengharuskan semua buruh di bagian tersebut untuk harus siap ketika ada panggilan untuk memperbaiki kerusakan di pabrik. Sekalipun buruh yang bersangkutan sedang libur maka dia diwajibkan untuk datang ke pabrik melaksanakan tugas.

Bagi Abu dan buruh outsourcing lainnya secara pekerjaan hal itu tidak menjadi masalah, namun persoalannya adalah upah dan hak lainnya yang diperoleh Abu berbeda dengan buruh tetap. Padahal pekerjaan yang mereka lakukan sama. Hal serupa juga dialami para buruh outsourcing yang bekerja di bagian lain.

“Tiap hari yang menjalankan alat berat adalah tenaga outsourcing, buruh tetap Petrokimia hanya santai-santai kalau ada kekurangan atau masalah berat baru turun. Jadi ujung tombaknya ya teman-teman outsourcing ini,” kata Abu ketika mengadu kepada pihak Kemenakertrans di Jakarta, Kamis (01/03). (*)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 10 + 2 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.