IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

Bupati Geredeg: WHDI Jangan Eksklusif

IndonesiaBicara-Amlapura, (25/02/11). Wanita Hidhu Dharma Indonesia (WHDI) hendaknya tidak bersikap eksklusif dalam menampilkan performa organisasi bernuansa Hindhu, di tengah berbagai tantangan yang sedang dihadapi umat dan masyarakat Hindhu saat ini.

Hal tersebut diutarakan Bupati Karangasem I Wayan Geredeg pada peringatan Hari Ulang Tahun Wanita Hindhu Dharma Indonesia ke 23 di Wantilan Pemkab setempat. Dikatakan Geredeg, sikap pro aktif dan keterbukaan WHDI diperlukan untuk aktif memberikan pencerahan bagi umat terhadap berbagai aspek-aspek agama Hindhu di Bali khususnya, sehingga umat tidak terjebak kedalam konflik internal berkepanjangan, yang dapat menghambat kemajuan umat itu sendiri dalam mengejawantahkan nilai-nilai agama Hindhu dalam kehidupan masyarakat.

Ditambahkan, peran WHDI dalam kancah pembangunan daerah memiliki makna penting mengingat pembangunan Karangasem dibangun atas basis budaya daerah. Sementara WHDI sediri selaku lembaga umat Hindhu sudah selayaknya mengambil peran turut aktif mewujudkan visi Kabupaten, agar benar-benar membudaya dikalangan masyarakat Karangasem, sehingga tercipta ketahanan budaya Karangasem.

Disamping itu sesuai tantangan yag dihadapi, WHDI juga diharapkan peduli terhadap pembangunan kemiskinan yang masih mewarnai Kabupaten Karangasem, yang terimplementasi kedalam program kerja secara riil.

Ketua Panitia Hut WHDI Ida Ayu Agung Emawati, melaporkan, organisasi WHDI yang lahir pada 12 Februari 1988 merupakan tonggak komitmen bahwa wanita Hindhu Dharma sesungguhnya dapat berperan aktif dalam melaksanakan dharmaning negara selain dharmaning agama. Dalam rangka kepedulian membangun karakter bangsa, melalui pelestarian budaya dan alam lingkungan, telah dilaksanakan berbagai kegiatan antara lain melaksanakan gerakan perempuan menanam pohon di Dusun Purasana Wana Kerti Abang, pemberian bantuan dana kepada Yayasan Widya Susrama untuk membantu anak sekolah kurang mampu serta untuk kelancaran pendidikan dan proses belajar, sekaligus merencanakan mengasuh anak sejumlah 30 orang.

Untuk mensosialisasikan Hymne dan Mars WHDI dilaksanakan lomba antar Kecamatan dengan Juara 1 sampai 3 masing-masing Kecamatan Bebandem, Rendang dan Karangasem, lomba Puja Trisandya tingkat SD dan SMP di Propinsi Bali, Lomba Dharma Wecana tingkat dewasa putri. Dalam lomba tersebut diperoleh kejuaraan Juara I Lomba Puja Tri Sandya tingkat SD oleh Luh Ayu Dyan Puspita dan Juara II tingkat SMP atas nama Ida Ayu Ketut Utari

Ketua Umum WHDI Pusat Nyonya Rathaya Kentjanawati Suwisma mengatakan, peringatan Hut WHDI ke 23 yang mengambil tema membangun karakter bangsa melalui pengembangan kebudayaan dan pelestarian alam lingkungan mengandung makna matangnya kedewasaan dalam memandang kebudayaan sebagai kebersamaan mempertahankan budaya dan alam lingkungan bagi kehidupan. Oleh karenanya wanita Hindhu patut menempatkan diri sebagai subjek dari dinamika kebudayaan dan perubahan alam lingkungan yang rentan.

Pendekatan kebudayan tepat dilakukan dalam mengembangkan karakter bangsa, sementara gagasan dan program yang menyasar peran serta wanita dalam pelestarian kemampuan lingkungan menunjukkan kepekaan akan kebutuhan mendesak untuk mengatasi dampak perubahan iklim akibat pemanasan global.

Ditambahkan, visi WHDI yakni terwujudnya wanita Hindhu yang cerdas mandiri dan berbudi pekerti luhur dengan budaya organisasi modern. Sedangkan misinya antara lain konsolidasi organisasi, peningkatan SDM wanita Hindhu, menyempurnakan bentuk kegiatan berbasis isue strategis sesuai tuntutan zaman dan misi keempat adalah pengembangan sifat positif dan berkarya. (Din/*)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 11 + 9 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.