IndonesiaBicara - Jurnalisme Independen Rakyat Indonesia

500 Balon Sebagai Tanda Penolakan Skema Baru Kenaikan SP3 Unair!

IndonesiaBicara-Surabaya, (19/05/11). Kawan-kawan sekalian, mungkin kita semua telah banyak mengetahui berita mengenai kenaikan biaya Sumbangan Peningkatan Pengembangan dan Pembangunan Pendidikan (SP3) yang di bebankan kepada mahasiswa baru Unair angkatan 2011.

Setelah ditekan gelombang perlawanan mahasiswa serta meyakinkan kembali kepercayaan masyarakat bahwa kenaikan biaya itu tidak perlu dikhawatirkan, ayah dan ibu kami para pejabat Unair kemudian merubah skema SP3 dengan sistem proporsional berdasarkan slip gaji orang tua mahasiswa. Menurut bapak ibu kami pejabat Unair, mahasiswa dari keluarga tidak mampu akan dibebaskan dari biaya pendidikan, dengan menggunakan mekanisme subsidi silang dari hasil kenaikan biaya SP3.

Dalam rangka menguatkan slogan Unair masih pro rakyat misikin itu, ayah dan ibu kami kemudian gencar beriklan bahwa mereka akan memberikan beasiswa kepada 1000 mahasiswa dari keluarga tidak mampu, yang program ini istilahnya adalah Airlangga Peduli Pendidikan (APP). Seribu mahasiswa yang menerima beasiswa ini akan terbagi menjadi dua, 500 mahasiswa akan menerima beasiswa Bidik Misi yang sumbernya berasal dari APBN negara sedangkan 500 mahasiswa lainnya akan di ambilkan dari subsidi silang kenaikan SP3.

Secara sepintas mungkin apa yang di lakukan oleh ayah dan ibu kami itu sangat berpihak kepada keluarga miskin (gakin). Tapi bilamana kita sedikit mau mendalami kasus tersebut, klaim yang diberikan ayah dan ibu kami itu hanya sepihak dan penuh kebohongan. Pertanyaannya, mengapa kami berani mengatakan demikian? Lebih jelasnya kami akan mengajak kawan-kawan sekalian merunut dan mengurai hubungan dari beasiswa dan kenaikan SP3 tersebut.

Kawan-kawan sekalian, sekedar untuk diketahui bersama, selama ini Universitas Airlangga memperoleh program beasiswa Bidik Misi yang di peruntukkan kepada 500 mahasiswa Unair yang masuk lewat jalur SNMPTN dan prestasi. Dengan rincian nominalnya, setiap mahasiswa akan memperoleh uang sebesar Rp5 juta/semester.

Namun demikian, dalam realitanya uang yang diberikan kepada mahasiswa tersebut tidak sepenuhnya sebesar Rp5 juta, tapi terjadi pemotongan karena para penerima beasiswa hanya mendapatkan sebesar Rp 500 ribu/bulan atau 3 Juta per semester. Terus sisa uang yang Rp2 juta itu kemana? Menurut ayah dan ibu kami uang itu akan di alokasikan untuk pembiayaan SOP (SPP) para penerima beasiswa, yang untuk diketahui bersama SPP semester bagi mahasiswa Unair baik jalur sosial maupun eksak, berkisar antara Rp800 ribu – Rp1,25 Juta.

Dengan demikian, dari program bidik misi itu sendiri terlihat terang masih terdapat sisa dana, karena bilamana di total jumlah dana beban pembayaran mahasiswa penerima bidik misi hanya berkisar antara Rp3,8 Juta – Rp4,25 Juta.

Lalu kemanakah sisa uang itu sendiri ? Ayah dan ibu kami selama ini menyatakan bahwa uang itu akan di gunakan untuk mensubsidi silang kepada mahasiswa lain yang kurang mampu. Tapi sayangnya, pernyataan itu sendiri juga masih belum terbukti kebenarannya, oleh karena selama ini transparansi dari pengelolaan beasiswa bidik misi, beasiswa dari instansi lain serta transparansi dari keuangan Unair sendiri tidak pernah jelas. Kenyataan itulah yang kemudian mendasari sikap politik FAM Unair selama ini yang tetap menolak skema baru biaya SP3 dengan sistem proporsional karena kami merasa sarat dengan kebohongan.

Sungguh malu rasanya ketika kami melihat kebohongan yang di lakukan ayah dan ibu kami itu, karena senyatanya sumber dana beasiswa bidik misi itu berasal dari APBN, yang barang tentu itu sama artinya berasal dari dana rakyat. Parahnya, ayah dan ibu kami kemudian dengan enteng serta tanpa malu menyebarkan kebohongan tersebut dengan memasang berbagai puluhan baliho di berbagai tempat di Unair, beriklan besar-besaran di media cetak dan elektronik.  Sesuatu yang barang tentu sangat menguras anggaran keuangan Unair dan tentunya pula sangat bertolak belakang dengan wacana yang mereka gembar-gemborkan selama ini bahwa kampus Unair sedang mengalami defisit keuangan.

Setelah melihat perkembangan kasus SP3 yang makin jauh dari pokok permasalahannya itulah, kami FAM Unair kemudian berinisiatif mengadakan aksi simbolis sederhana “Pelepasan 500 Balon”. Maksud dan tujuan dari kegiatan yang kami adakan ini adalah sebagai simbol terima kasih kami kepada rakyat Indonesia, karena telah ikut membantu meringankan biaya kuliah dari teman-teman kami, sekitar 500 mahasiswa Unair yang menerima beasiswa bidik misi.

Bisa dikatakan aksi simbolis pelepasan 500 balon ini adalah bentuk iklan kami kepada publik, walaupun memang iklan yang kami lakukan ini mungkin jauh dari kata wah, karena biaya kegiatan kami ini pun sangat minimalis hanya bersumber dari uang urunan kami sendiri, hasil sumbangan mahasiswa dalam aksi panggung seni keliling beberapa waktu lalu serta hasil berjualan buku.

Tentunya sangat jauh bilamana dibandingan dengan iklan yang gencar dilakukan ayah dan ibu kami selama ini, yang dengan segala kekuasaan yang mereka miliki bisa dengan leluasa memakai dana kas Unair yang sumbernya sendiri berasal dari biaya kuliah yang kami bayarkan dan dana rakyat (APBN) yang di terima Unair, untuk membiayai iklan besar-besaran di berbagai media massa yang sudah barang tentu akan memakan uang yang sangat besar.

Selain itu, dalam aksi simbolisasi pelepasan 500 balon ini kami juga menyampaikan permohonan maaf kepada rakyat Indonesia atas apa yang dilakukan oleh ayah dan ibu kami karena melakukan klaim sepihak memberikan beasiswa Bidik Misi, padahal senyata-nyatanya bahwa sumber pendanaannya berasal dari rakyat Indonesia yang ada di APBN. Serta sekaligus kami juga minta maaf atas tidak tahu malunya ayah dan ibu kami yang masih tetap bersikeras menaikkan biaya SP3, padahal jelas-jelas kebijakan itu akan sangat memberatkan rakyat Indonesia.

Sebuah tindakan yang ironis, dikala gaji yang mereka terima selama ini juga berasal dari darah dan keringat kaum buruh, petani, nelayan, kaum misikin kota dan lain-lain.

Maka dari itulah, dalam aksi simbolisasi pelepasan 500 balon pada hari rabu tanggal 18 Mei 2011 di kampus B Universitas Airlangga ini, kami dari Forum Advokasi Mahasiswa Universitas Airlangga menyatakan sikap :

1. Mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia karena telah membantu biaya kuliah para mahasiswa Unair penerima beasiswa bidik misi serta menghidupi ayah ibu kami para dosen dan Pejabat Unair.

2. Mengucapkan maaf yang sebesar-sebesarnya kepada rakyat Indonesia karena sampai hari ini ternyata hati, pendengaran, penglihatan dari ayah dan ibu kami para pejabat Unair masih belum terbuka, karena masih tetap bersikeras menaikkan Biaya Kuliah adik-adik kami mahasiswa baru Unair 2011.

3. Menuntut kepada pejabat Unair untuk membatalkan kenaikan SP3 Unair yang sangat memberatkan Rakyat Indonesia dan membuka transparansi keuangan dari Unair agar semakin terang duduk permasahan kasus Kenaikan SP3 itu.

(Siaran Pers Aksi FAM Unair)

Tinggalkan Balasan

 

 

 

Anda dapat menggunakan penanda HTML berikut

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What is 9 + 14 ?
Please leave these two fields as-is:
PENTING! Untuk melanjutkan Anda harus menjawab pertanyan di atas.